Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.



Ancaman Real Indonesia, Terorisme Atau PKI?

Setelah 18 tahun terhitung sejak reformasi 1998, saya sudah tidak pernah mendengar lagi perihal doktrinasi Orde Baru tentang bahaya laten PKI maupun Kebangkitan PKI. Tapi mendadak tidak ada mendung tidak ada hujan, di tengah usia reformasi sudah menembus usia 18 tahun saya dikejutkan lagi tentang phobia sebagian masyarakat terhadap Kebangkitan PKI. 

Hak Kebebasan Menulis Bukan Perkara Mudah Bagi Seorang Tapol

Ketika saya membaca buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, khususnya buku yang ditulisnya ketika Pram masih mendekam di dalam penjara sebagai tahanan politik (tapol), membuat saya menjadi bertanya-tanya dan penasaran, bagaimana Pram bisa terpenuhi daya konsentrasinya sebagai penulis dan hak kebebasannya untuk menulis selama mendekam di dalam penjara sebagai tapol? Bukankah selama Pram mendekam di Pulau Buru sebagai tapol, hak-haknya untuk menulis dibatasi, dipersulit, dilarang dan bahkan dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menulis karena waktunya habis untuk bekerja keras secara paksa? 

Semoga Dendam Sesama Anak Bangsa Cepat Berlalu

Kalau saja Rezim Orde Baru atas nama Negara tidak melakukan support dan pembiaran terhadap amuk para anak bangsanya sendiri yang anti PKI untuk serta-merta melakukan penghakiman kepada para anak bangsa sendiri yang diindikasikan sebagai PKI.

Komik Sebagai Media Kampanye Partai Politik

Masyarakat yang tidak berpendidikan, masyarakat yang tidak mengenal bangku sekolahan, masyarakat yang hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar dan masyarakat yang buta huruf adalah kondisi real masyarakat Indonesia di tahun 1955, ketika Indonesia Merdeka masih berumur sepuluh tahun.

Menguak Tragedi Pasca 1965 Melalui Media Komik

Ketika seorang cendekia dari ilmu sosial mengungkapkan suatu peristiwa sejarah maka pengungkapannya akan berbeda dengan apa yang dilakukan oleh seorang seniman komikus. Seorang cendekia dari ilmu sosial ketika mengungkapkan suatu peristiwa sejarah maka ekspresi tangannya hanya  digunakan untuk menulis. 

Lentera Menolak Pembohongan Sejarah

Hanya gara-gara menyajikan artikel headline berjudul  Salatiga Kota Merah yang isinya menolak pembohongan sejarah versi Orde Baru yang mengungkap berita di seputar peristiwa Gerakan 30 September 1965, maka majalah internal kampus  Lentera, yang diterbitkan Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, justru berakhir dengan pembredelan yang dilakukan oleh Rektor UKSW atas desakan Polres Salatiga. 

Jahatnya Orde Baru Melenyapkan Perjuangan Alimin Sebagai Pahlawan Nasional


Alimin bin Prawirodirdjo (1889-1964) adalah salah satu tokoh pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Karirnya sebagai aktivis pergerakan nasional dirintis pernah menjadi anggota  Budi UtomoSarekat Islam, pendiri Sarekat Buruh Pelabuhan  dan  sebagai salah satu tokoh inti Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Surat Terbuka Dewi Sukarno Kepada Presiden Soeharto


Peralihan kekuasaan Indonesia dari Soekarno ke Rezim Militer Soeharto telah diwarnai insiden berdarah yang dialami oleh setengah dari jumlah anak bangsa Indonesia yang dituduh terlibat dalam peristiwa 30 September 1965 harus mengalami serangkaian perilaku ketidakmanusiawian seperti  penyiksaan, pemerkosaan, penculikan, perusakan, pembakaran hingga pembunuhan, tegasnya semua perilaku vandalisme dan barbarian itu mendapat legitimasi, pembiaran dan support dari Negara Pasca Peralihan Rezim Militer Soeharto.

Kepahlawanan Njoto Kandas Di Tengah Amuk Anak Bangsanya Sendiri

Begitu sangat disesalkan jika perjuangan dan pemikiran dari seorang anak bangsa sendiri bernama Kusumo Digdoyo yang kemudian dikenal dengan nama Njoto yang lahir di Bondowoso 17 Januari 1927 justru kiprah jasa-jasa kepeduliannya untuk masa depan bangsa dan negara sampai sekarang namanya telah dieliminasikan dari buku-buku sejarah resmi.

Semaoen Aktivis Buruh Pertama Di Indonesia



Awal abad ke-20, Indonesia di bawah kekuasaan Hindia Belanda saat itu telah lahir kelas proletar yang terdiri dari buruh kereta api, pegawai kantor pegadaian, buruh perkebunan, buruh pabrik gula dan sebagainya.

 

Ketik dan Tekan Enter