Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah, peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.



Blunder Yasonna Di Tengah Wabah Covid-19

Di satu sisi Pemerintah telah menghimbau kepada seluruh anak bangsa di mana saja agar penyebaran wabah pandemi Covid-19 tidak meluas, maka para anak bangsa telah ditekankan untuk turut membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19 melalui stay at home atau berupaya untuk tetap berada di dalam rumah saja. Tapi di sisi lain Pemerintah melalui Menkumham Yassona Laoly justru telah bertindak blunder dengan kebijakan keblingernya telah membebaskan para narapidana umum.

Model Lockdown Apakah Yang Kita Mau?

Saya sejak awal sudah dapat memprediksi betapa wabah pandemi Covid-19 boleh terjadi di negara mana saja, asalkan jangan pernah terjadi di Indonesa. Mengapa demikian? Sebab ketika Covid-19 menjalar ke Indonesia maka boleh bisa dipastikan banyak kepentingan politis dari para elite oposisi di Dalam Negeri dan Luar Negeri, tentunya dalam hal ini Amerika Serikat akan memainkan peranan aktifnya yang merucut menjadi agenda politik tersembunyi memanfaatkan semua akibat yang disebabkan oleh Covid-19 di Indonesia untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.

Logika Nyungsep Oleh Lebay Corona

Hakikatnya tanpa kehadiran virus 2019-nCoV alias COVID-19 alias SARS-CoV-2 alias 2019 Novel Coronavirus atau lazim kita menyebutnya dengan virus Corona pun, kita sudah terbiasa tanpa harus bersikap secara lebay dalam menghadapi berbagai ancaman virus penyakit mematikan seperti HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome), Avian Influenza alias Flu Burung, Ebola, MERS (Middle East Respiratory Syndrome) dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang sampai sekarang belum juga ada vaksinnya.

Kerusakan Silaturahmi Anak Bangsa Oleh Phobia Corona

Ketika para anak bangsa meminta segera kepada Pemerintah agar bergegas tanggap untuk mengevakuasi para Warga Negara Indonesia yang masih bertahan di kota Wuhan ibukota Propinsi Hubei, Tiongkok, tapi ironisnya ketika para WNI sudah dievakuasi dan dipulangkan ke tanah air sendiri, yang terjadi justru malah sebaliknya. Kehadiran para WNI hasil upaya evakuasi justru malah mendapatkan penolakan oleh warga lokal di tanah airnya sendiri.

Klitih, Intropeksi Dosa Orang Tua dan Solusi Penanganan


Lima tahun  belakang ini Jogjakarta telah dihadirkan kasus-kasus Klitih. Fenomena baru dari wujud kenakalan remaja anak-anak dari kalangan Sekolah Menengah yang diekspresikan melalui kehidupan gengter. Mereka akan keluar di malam hari ramai-ramai menggunakan motor untuk membuat tindak keonaran kepada siapa saja yang menjadi target korban sesuai kehendak seleranya hingga sampai berujung kepada tindakan pidana, seperti perampasan, perampokan, pengrusakan, penganiayaan dan pembunuhan.

 

Ketik dan Tekan Enter