Dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi peradaban politik, sosial, kemanusiaan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.



Garuda Samsara Tampil Melanjutkan Jejak Para Seniornya Kantata Samsara

Ketika awalnya saya menyaksikan grup musik Garuda Samsara, maka pikiran saya langsung melompat ke belakang teringat kepada nama Kantata Samsara, sebuah album studio kedua dari grup musik Kantata Takwa yang dibentuk pada tahun 1990-1998 oleh Setiawan Djody, sang pengusaha kreatif kelas kakap yang sangat concern di ranah kesenian musik beraliran rock pada era Orde Baru.  

Lantas apa kaitan di antara Garuda Samsara dengan Kantata Samsara? Menurut Fektor Ferianto dan Sapto Nugroho sebagai penggagas nama Garuda Samsara, betapa tidak bisa dipungkiri jika nama Samsara di belakang nama Garuda memang terinspirasi dari nama Kantata Samsara. Pasalnya sudah 22 tahun grup musik Kantata Takwa dibiarkan absen tanpa karya lagi dari gelanggang blantika musik Indonesia. Beberapa personilnya pun seperti WS Rendra, Innisisri dan Yockie Suryo Prayogo sudah meninggal dunia. Padahal demam Samsara dari kalangan para idola Fals Mania yang biasa dikenal dengan OI masih saja eksis sampai sekarang. Berangkat dari sinilah sekelompok anak muda Fals Mania di Jogjakarta pada tahun 2014 membentuk grup musik Garuda Samsara sebagai wadah band perpanjangan atau melanjutkan atau meneruskan lagu-lagu Kantata Samsara.

Tegasnya, kehadiran Garuda Samsara tiada lain sebagai regenerasi yang ingin melanjutkan jejak Kantata Takwa atau Kantata Samsara. Bahkan tidak berhenti pada sebatas Kantata an-sich, tapi termasuk Swami, Dablo dan semua lagu-lagu yang pernah dilantunkan oleh Iwan Fals dalam album kasetnya. Lebih spesifik lagi, segalanya yang melibatkan Iwan Fals dalam lagu-lagunya, termasuk keterlibatan Iwan Fals ke dalam Kantata Takwa, Kantata Samsara, Swami dan Dablo, maka tetap menjadi bagian tali temali dari salam satu jiwa Fals Mania yang akan terus dilibatkan dalam lagu-lagunya Garuda Samsara.

Semua personil yang masuk dalam Garuda Samsara adalah mereka yang memiliki persamaan satu jiwa idealism sebagai fans berat Fals Mania yang piawai memainkan alat musik dan melantunkan lagu-lagunya Iwan Fals. Kehadiran grup musik Garuda Samsara bukanlah dijadikan sebagai ajang mata pencarian mereka, melainkan sebagai wadah berkumpul bareng dalam nafas satu jiwa idealism kebersamaan yang diekspresikan secara kreatif dalam wujud musik dan lagu.

Perlu ditegaskan di sini betapa kehadiran Garuda Samsara tidak menjadikan grup musik ini sebagai grup musik komersial atau grup musik sebagai mata pencarian. Hal ini dapat dibuktikan betapa mereka para personil Garuda Samsara bukan pengangguran dan memiliki pekerjaan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari pantauan saya ternyata mereka bekerja di sektor swasta sebagai karyawan di sebuah perusahaan jasa, wiraswasta dan satpam.

Ada lima personil tetap di grup musik Garuda Samsara, antara lain: Sapto Nugroho yang acap dipanggil Bendot sebagai drummer yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas satuan keamanan,  Fektor Suristianto yang biasa dipanggil Suro sebagai gitaris yang sehari-harinya bekerja secara freelance, Hery Risdianto sebagai vokalis dan gitar akustik yang sehari-harinya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan jasa, Eri Subiyanto alias Eri Bian sebagai gitaris yang sehari-harinya bekerja sebagai wiraswasta dan terakhir Sigit Rudiyanto sebagai guitar bassist yang sehari-harinya bekerja di ranah swasta.

Kepiawaian mereka berlima dalam memainkan musik dan mengalunkan lagu-lagu Iwan Fals bukan didapatkan dari sekolah musik, melainkan kepiawaian yang didapatkan dari bakat natural alias otodidak. Hanya saja ciri khas Iwan Fals yang piawai dalam memainkan harmonika sebagai mascot alat musiknya ternyata joehoogi.com belum menemukan kepiawaian personil Garuda Samsara dalam memainkan alat musik harmonika selama melakukan pentasnya.

Betapa mereka sudah terlanjur hadir ke blantika musik Indonesia, meskipun kehadiran mereka hanya sebagai grup musik dari panggung ke panggung dan belum mendapat kesempatan untuk menelorkan dalam sebuah karya album. Kita hanya bisa berharap agar kehadiran mereka dapat diberi kesempatan untuk merilis sebuah album oleh salah satu produser. Toh, kehadiran Iwan Fals dan Tom Slepe pada awalnya juga berangkat dari yang paling terbawah sebagai penyanyi jalanan.

Akhirulkalam, saya akan menampilkan sajian video hasil peliputan terhadap sembilan lagu yang dibawakan oleh Garuda Samsara dalam pentas liveshownya baru-baru ini di panggung DC Milk Cafe & Bar di jalan Damai Nomor 5A Jogjakarta pada acara penutupan Tahun Baru pada tanggal 29 Desember 2019. Sembilan lagu itu antara lain: Burung Putih, Hio, Bento, Bongkar, Yang Terlupakan, Pesawat Tempurku, Kesaksian, Nyanyian Jiwa dan Kuda Lumping. Khusus untuk sajian dari penampilan lagu Bento dan Bongkar merupakan hasil request yang sengaja dinyanyikan oleh Sang Alang dengan diiringi musik oleh para personil Garuda Samsara.


Baca Juga :



Load Comments

0 komentar:

Post a Comment

Joe Hoo Gi

 

Ketik dan Tekan Enter