Prasangka, Stereotipe dan Absurditas Dalam Memaknai BuzzeRp

Prasangka, Stereotipe dan Absurditas Dalam Memaknai BuzzeRp

Istilah dari kosa kata buzzer yang kemudian diupdate belakangan ini menjadi buzzeRP yang selama ini viral dilatahkan secara berulang-ulang tanpa makna pemahaman yang jelas tampaknya hanya terjadi pada kepemimpinan Jokowi. Pada Periode sebelumnya istilah dari kosa kata buzzeRp nyaris tidak pernah kita mendengarnya.

Sampai detik ini makna akurasi dari siapa dan apa itu buzzeRp belum terasa jelas dan penuh diselimuti kabut bayang-bayang kecuali hanya cuitan yang serba latah tumbuh dari prasangka yang absurditas dan dipenuhi kandungan stereotip dalam memaknai sebutan kata buzzeRp.

Sehingga konsekuensi definitif logis dari kandungan kata buzzeRp justru menjadi serba absurd atau istilah orang Jawa menyebutnya gebyah-uyah di tengah-tengah khayalak akibat dari kelatahan blunder yang diucapkan secara stereotip berulang-ulang tanpa memahami apa dan siapa maksud dari buzzeRp itu. 

Apakah buzzeRp yang dimaksud adalah orang-orang yang berkecimpung di sosial media yang mendapat pesanan atau bayaran untuk menyuarakan suara pesanan dari pihak tertentu yang membayarnya? 

Memang harus dibutuhkan agreatment apa dan siapa yang dimaksud dengan buzzeRp sehingga tercapainya deal bahwa tidak semua suara yang berkonotasi kritik itu sebagai buzzeRp. Bisa juga suara itu hadir independen sesuai selera hati nuraninya sendiri yang tidak dipesan atau dibayar oleh siapa pun.

Sebab yang terjadi sekarang ini adalah mudahnya orang memberi stempel atau stigmatisasi yang tumbuh dari prasangka-prasangka yang latah dan stereotip betapa setiap suara kritik yang hadir di media sosial digeneralisasikan sebagai buzzeRp.

Kondisi yang terjadi sekarang jika ada pihak yang memberikan suara kritik melalui media sosial sebagai corong aspirasinya untuk membela penguasa dan melancarkan kritik kepada pihak yang berseberangan dengan penguasa selalu digebyah-uyah atau digeneralisasikan sebagai buzzeRp istana. 

Padahal yang terjadi masih banyak anak bangsa hadir sebagai sukarelawan melalui media sosial sebagai corong aspirasinya membela penguasa dan melancarkan kritik kepada pihak yang berseberangan dengan penguasa. Apakah sukarelawan ini termasuk buzzeRp yang notabene dia tidak dipesan dan dibayar oleh siapapun kecuali independen bergerak sesuai selera hati nuraninya sendiri?

Pada global agreatment universal dapat dikonklusikan apa dan siapa yang bisa disebut sebagai buzzeRp adalah orang yang bekerja sebagai jasa strategi yang dibayar untuk mengkampanyekan atau mempromosikan sesuatu ke media sosial berdasarkan harapan dan keinginan dari pihak pemesan. Target tujuannya tiada lain agar pesanan tersebut akan menjadi pembicaraan yang viral dan menjadi trending topik di sosial media.

Kalau global agreatment universal -nya sudah demikian, maka apakah influencer, selebgram, youtuber   dan lain sebagainya sekelas Denny Siregar, Ade Armando, Permadi Arya, Refly Harun, Rocky Gerung dan lain sebagainya dapat dikategorikan sebagai buzzeRp? Sampai hari ini saya sangat-sangat tidak yakin mereka sebagai buzzeRp.

Alasan ketidakyakinan saya betapa kerja keras mereka tidak pernah terbukti dipesan dan dibayar oleh siapapun kecuali gaji besar mereka dapatkan dari dari Google Adsense berdasarkan jumlah follower, viewers, subscribers dan showtimes yang mereka dapatkan. 

Akhirulkalam, janganlah terlalu mudah men-judge suara kritik di sosial media sebagai buzzeRp sebelum kita mengetahui sumber kepastian dari akurasi data apakah suara mereka dipesan dan dibayar oleh pihak tertentu. Stop prasangka, stereotipe dan absurditas dalam memaknai buzzeRp.  Wallahu a'lam bish-shawabi. (Joe Hoo Gi)

JOE HOO GI


 Sampaikan kritik Anda kepada artikel kami di atas: Prasangka, Stereotipe dan Absurditas Dalam Memaknai BuzzeRp melalui kolom komentar yang sudah kami sediakan.




Dapatkan Pemberitahuan Setiap Ada Artikel Terbaru