Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.



Di Manakah Aroma Keistimewaanmu Sekarang, Jogjakarta?


Sudah 36 tahun saya tinggal di Jogjakarta hingga sampai dengan sekarang. Betapa tidak saya pungkiri selama hidup puluhan tahun di hayuning bawana Nagari Kasultanan Ngayogyokarta Hadiningrat alias Jogjakarta, saya senantiasa disuguhi pergaulan hidup sosial yang serba menghargai berbagai keragaman identitas yang multikultural. Tidak berlebihan jika saya sebut Jogjakarta tidak hanya sebagai miniatur Indonesia, tapi juga sebagai miniatur dunia.

Mengkritisi Benang Kusut Dari Rohingya Sampai Uyghur




Awalnya ada dua benang yang kondisinya masih belum terburai kusut. Benang yang pertama terletak di Asia Tenggara tepatnya di Negara Republik Persatuan Myanmar yang dulu dikenal dengan Negara Burma ada propinsi Arakan alias Rakhine yang ditempati oleh etnis minoritas Rohingya keturunan Indo Arya asal Bangladesh beragama muslim. Sedangkan benang kedua terletak di Asia Timur tepatnya di Negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ada propinsi Xinjiang yang ditempati oleh etnis minoritas Uyghur keturunan Turkistan asal Turki yang beragama muslim.

Tiga Kesalahan Fatal Dalam Kasus Meiliana

Apa yang salah pada kasus yang menimpa wanita warga Tanjung Balai, Sumatera Utara, bernama Meiliana sehingga dia harus menjadi pesakitan hingga divonis bersalah dengan hukuman penjara 18 bulan atau 1,5 tahun oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Medan pada hari Selasa, 21 Agustus 2018?

Radikalisme Di Ujung Sebilah Pisau



Tulisan saya ini terinspirasi dari perdebatan antar dua kawan saya yang konon sama-sama sebagai mantan aktivis 1998 telah bersilang pendapat perihal radikalisme yang konon menurut kawan yang hadir pada acara Rembuk Nasional Aktivis 1998 yang berlangsung pada tanggal 7 Juli 2018 di Kemayoran Jakarta Pusat, telah menempatkan radikalisme sebagai pemicu lahirnya serangkaian aksi kekerasan. Bahkan menurutnya, tidak berlebihan jika radikalisme dianggap sebagai embrio masif  yang akan melahirkan aksi tindak kekerasan Terorisme di tengah hubungan antar manusia.

Khilafah? Mari Kita Menjemput Kiamat Bersama

Janganlah membangunkan macan yang tertidur lelap. Pasalnya jika membangunkan macan yang sedang tidur, maka macan yang bangun dari tidurnya akan bereaksi dengan agresif. Macan yang saya maksud di sini tiada lain adalah ormas Islam tertua dan terbesar kita bernama Nahdatul Ulama (NU). Sejarah telah menunjukkan kepada kita betapa NU adalah ormas Islam tertua dan terbesar di antara semua ormas Islam yang ada di Indonesia. Sejarah banyak menulis peranan perjuangan NU dalam membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial kepada umat Islam di Indonesia, terutama peranan dakwahnya yang lebih memperhatikan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat ukhuwah dalam perbedaan.

Fahri Hamzah Sulit Saya Pahami

Kalau saja seandainya yang terjadi adalah aparat kepolisian atas nama Kekuasaan Negara memasuki area kampus kemudian melakukan intervensi berupa security approach terhadap para aktivis mahasiswa yang kritis sedang melakukan aksi mimbar bebas atau ajang perdebatan dalam kancah diskusi, maka saya sebagai orang yang pernah dibesarkan sebagai aktivis mahasiswa di era kekuasaan otoriter Orde Baru  tentunya sependapat dengan protes yang disampaikan Fahri Hamzah  perihal aparat kepolisian Tim Densus 88 anti Teror memasuki penggeledahan dan penangkapan kepada aktivis mahasiswa di  Universitas Negeri Riau.

Peran Etnis Tionghoa Dalam Sejarah Berdirinya Kesultanan Jogjakarta

Banyak stereotip pemahaman subyektif yang beredar di tengah masyarakat Jogjakarta seolah-olah masyarakat minoritas etnis Tionghoa yang tinggal di Daerah Istimewa Jogjakarta tidak memberikan kontribusi perjuangannya untuk melawan pasukan imperialisme Belanda. Padahal sejarah telah menuliskan betapa Sultan Hamengkubuwono I ketika masih menjadi Pangeran Mangkubumi sudah menjalin kemitraan kebangsaan kepada masyarakat etnik Tionghoa sebagai kawan berperang melawan pasukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Mengenang 33 Tahun Geger Borobudur


Lagu berjudul Geger Borobudur yang dilantunkan oleh mendiang Tom Slepe pada tahun 1985 merupakan lagu untuk mengenang betapa tragedi teror pengeboman Borobudur untuk waktu ke depan tidak lagi terulang sebab Borobudur selain sudah menjadi aset Bangsa dan Negara, ternyata juga sudah menjadi aset Internasional yang harus dipelihara sejarah peradabannya.

Terror Via Shared Hoax News



Terror via Shared Hoax News? Ya,ya biang kerok kejahatan paling terjahat dari terjahat ketimbang Korupsi, Narkoba dan Terorisme. Why? Hanya ini satu-satunya cara tiada alternatif cara lain yang bisa menghancurkan Indonesia sesuai target.

An Open Reprimand To Tengku Zulkarnain


Tengku Zulkarnain sebagai salah satu narasumber pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC) Selasa, 13 Pebruari 2018 di TV One bertajuk Teror Ke Pemuka Agama, Adakah Dalangnya? pada menit 9:11 telah melakukan pembohongan publik dengan mengatakan:"Kemudian ada masjid lagi dekat pangkalan Brandan dibakar. Tiba-tiba keluar pengumuman orang gila. Siapa orang gilanya? Bagaimana orang gila bisa pilih masjid? Kok orang gila enggak milih rumah polisi dibakar? Kenapa harus masjid yang dibakar?" Selanjutnya sajian bukti visual video selengkapnya dapat dilihat di akhir sajian tulisan saya ini.

 

Ketik dan Tekan Enter