Berminat dalam pemrograman web, perangkat lunak pada sistem komputer, manajer media sosial dan Blogger yang saat ini tinggal di Jogjakarta, Indonesia.



Mengenang 38 Tahun Jejak Karir Doel Sumbang

Tidak dapat saya sangkal kalau Doel Sumbang yang melantunkan lagu mbelingnya secara humorik melalui irama pop akustik adalah salah satu yang menjadi favorit lagu-lagu koleksi saya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Saya akan mengulas secara singkat jejak karier Doel Sumbang pada awal jejak kariernya di tahun 1980-an yang memilih jalur lagu berirama khas pop akustik dengan pesan lirik-liriknya yang humorik sarat dengan ocehan mbeling -nya yang mungkin belum banyak diketahui oleh para pecinta lagu berirama pop akustik pop di tanah air. 

Wahyu Affandi atau lebih dikenal dengan nama Abdul WEA, yang kemudian berubah namanya dengan sebutan populer Doel Sumbang. Lahir dan dibesarkan di Bandung, Jawa Barat, 16 Mei 1963.  Awalnya Wahyu Affandi lebih memilih nama alias Abdul WEA ketimbang nama sebutan  Doel Sumbang. 

Awal karier senimannya dimulai di Teater Braga ketika dia masih duduk di bangku SMP. Doel Sumbang banyak belajar dari jejak kawan seniornya Remy Sylado, budayawan mbeling dan sekaligus  pimpinan  Teater 23761. Di Teater 23761 inilah konon Wahyu Affandi acap dipanggil kawan-kawannya dengan sebutan Si Doel. 

Nama Doel Sumbang sendiri adalah nama pemberian dari Handoko Kusumo yang menjadi produser dari kaset-kasetnya Doel Sumbang. Alasan Handoko Kusumo memberikan nama Sumbang di belakang nama depan Doel  karena jenis lagu yang ditampilkan tidak lazim alias mbeling  dan lirik-liriknya sarat dengan kritik sosial yang disampaikan secara membumi dan merakyat.

Tampaknya menurut saya telah terjadi pergeseran konsep yang signifikan dari lagu-lagu Doel Sumbang pada tahun 1980-an dengan dibandingkan penampilan lagu-lagu Doel Sumbang tahun-tahun 1990-an. Doel Sumbang pada tahun-tahun 1980-an masih konsisten dengan jalur konsep kesumbangannya. 

Setelah tahun-tahun 1990-an tampak sekali konsep kesumbangannya yang menjadi ciri khas sosok mbelingnya justru berangsur-angsur mulai ditangalkan. Hal ini mengingatkan saya kepada jejak karier Tong Crosbie yang menanggalkan sosok mbelingnya demi menggapai pasar lantas harus berubah nama menjadi Obbie Messakh dan Wanda Chaplin  yang menanggalkan sosok mbelingnya demi menggapai pasar lantas harus berubah nama menjadi Papa T Bob. Hanya saja perbedaannya, Doel Sumbang tetap bertahan dengan nama Doel Sumbang -nya meskipun konsep Doel Sumbang -nya sudah hilang dari konsep lagu-lagunya.

Akhirulkalam, Semoga kehadiran tulisan saya ini dapat bermanfaat menambah khazanah di blantika musik pop di Indonesia yang selama ini belum banyak kita ketahui.




Baca Juga :



Load Comments

 

Ketik dan Tekan Enter