>

Surga Kehidupan Biosistem Hutan Merapi Sebagai Titipan Anak Cucu



Dalam krisis kepedulian masa depan habitat alam raya Indonesia yang tampaknya dari tahun ke tahun semakin mengkawatirkan akibat bencana kebakaran hutan yang terus menerus digalakkan, ternyata masih ada dari anak bangsa kita sendiri yang masih intens dalam kepeduliannya menitip pesan melalui greget nadanya betapa kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk hidup tidak bisa dipisahkan dari ekosistem hutan beserta habitatnya.

Corat-marutnya ekosistem hutan oleh ulah sistemik penguasa manusia moderen justru berakibat fatal kepada terpisahnya mata rantai kehidupan makhluk hidup dengan lingkungannya. Bencana asap dari akibat terbakarnya hutan yang terjadi pada setiap musim kemarau telah membuat hilangnya keseimbangan biosistem dengan lingkungannya.

Dalam kondisi rusaknya lingkungan hidup ini ternyata masih ada kepedulian dari anak bangsa kita sendiri yang masih memberikan pijar harapan penyadarannya agar penguasa manusia moderen turut serta merta memperhatikan betapa pentingnya hutan sebagai cikal bakal jantung kehidupan habitat dan termasuk makhluk hidup bernama manusia untuk tetap terjaga dari kepunahan. 

Bukan menjadi rahasia masyarakat umum lagi jika Merapi merupakan salah satu dari enam belas gunung berapi di dunia yang memiliki sejarah erupsi berskala besar dan destruktif yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman padat penduduk.

Sejarah berulangkali telah menorehkan tintanya betapa Merapi setiap 2 - 3 tahun terjadi bencana erupsi dalam skala kecil, dan setiap 10 - 15 tahun selalu saja terjadi bencana erupsi dalam skala besar.

Bemmelen, ahli geologi asal Belanda, hanya bisa mencatat sejarah awal terjadinya bencana erupsi Merapi dimulai pada tahun 1006 Masehi. Hanya tahun 1872 yang merupakan tahun terjadinya bencana erupsi yang paling terkuat dengan memakan korban jiwa yang paling terbesar di antara semua kejadian bencana erupsi Merapi.

Meskipun Merapi merupakan gunung berapi yang berbahaya karena senantiasa setia setiap saat bencana erupsi selalu menghadang, tetapi Merapi merupakan obyek pendakian yang terpopuler karena kondisi pemandangan alamnya yang sangat mempesona.

Kondisi pemandangan alamnya yang sangat mempesona inilah yang telah menjadi alasan krusial dari para pendaki dari para pencinta alam untuk tiada pernah jera terhadap ancaman bencana erupsi yang setiap saat memanggil merenggut korban.

Ell Luckiyanto feat Betrix Pical yang dibantu oleh kawan-kawan SAR DIY yang piawai dalam memainkan alat musik akustik mencoba berjuang memberikan sikap penyadaran mengingatkan kepada kita semua tanpa terkecuali melalui pesan nadanya betapa maha pentingnya hutan termasuk komunitas biosistem di dalamnya yang tidak bisa dipisahkan dari ekosistem kehidupan alam termasuk makhluk hidup bernama manusia pun bagian dari mata rantainya.

Dalam lagu Titipan Anak Cucu, Surga Kehidupan dan Merapi yang dilantunkan oleh Ell Luckiyanto feat Betrix Pical tersirat pesan betapa alam biosistem hutan wajib untuk dilestarikan sebab kehadirannya sudah menjadi manifestasi titipan anak cucu yang harus tetap terpelihara dan terjaga untuk kelangsungan regenerasi peradaban masa depan manusia.

Tapi apakah pesan dalam lagu Titipan Anak Cucu, Surga Kehidupan dan Merapi dapat memberikan sikap penyadaran terhadap kecongkakan penguasa manusia yang selama ini telah menciptakan kerusakan alam biosistem hutan akibat dari ambisi tendensius kepentingannya?

Tampaknya saya harus mempertanyakan greget pesan yang tersirat dalam lagu Titipan Anak Cucu, Surga Kehidupan dan Merapi apakah mampu memberikan magnetis penyadaran mengingat bencana asap yang ditimbulkan dari faktor kesengajaan ulah penguasa manusia yang telah semena-mena membakar biosistem hutan yang terjadi dari tahun ke tahun di negeri ini ternyata Negara pun tiada sanggup untuk menghentikannya?

Akhirulkalam, saya akan menampilkan sajian tiga video klip Ell Luckyanto feat Betrix Pical hasil editing mBambung Official. Semoga kehadiran lagu-lagunya dapat menambah khazanah di blantika musik di Indonesia yang selama ini belum banyak kita ketahui. (Joe Hoo Gi)







BUKA KOMENTAR