Situs ini menggunakan cookie untuk menampilkan iklan dan menganalisis trafik guna meningkatkan pengalaman Anda. Pelajari lebih lanjut di
Kebijakan Privasi.
HomeSejarah & PerspektifReuni 28 Tahun Reformasi: Alumni Aktivis Mahasiswa UJB Luncurkan Buku Kesaksian Sejarah
Reuni 28 Tahun Reformasi: Alumni Aktivis Mahasiswa UJB Luncurkan Buku Kesaksian Sejarah
· | JOE HOO GI | 24/05/2026
Peluncuran buku kesaksian sejarah Kampus Pergerakan-Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986-2026 untuk mengenang 28 tahun usia Reformasi 1998.
JOEHOOGI.COM - Awal terbentuknya reuni untuk mengenang kembali 28 tahun usia Reformasi oleh para alumni aktivis mahasiswa Universitas Janabadra (UJB) ini sengaja tidak dilakukan dalam tatap jumpa langsung, melainkan mereka yang masih bisa dilacak nomor ponsel keberadaannya satu persatu dimasukkan ke dalam grup WhatsApp.
Kesaksian Melalui Grup WhatsApp Sebagai Referensi
Melalui grup WhatsApp inilah para alumni aktivis mahasiswa UJB yang dimulai dari periode tahun 1986 sampai pasca euforia Reformasi 1998 telah diupayakan untuk dapat dikumpulkan kembali sehingga masing-masing dapat memberikan kesaksiannya selama melakoni sebagai aktivis mahasiswa.
Tentunya tidak semua kawan yang terlibat sebagai aktivis mahasiswa UJB bisa dihadirkan di grup WhatsApp mengingat masih ada kawan-kawan yang belum bisa dilacak nomer ponsel keberadaan dan beberapa dari mereka sudah ada yang meninggal dunia.
Saya dimasukkan oleh Eko Prastowo untuk bisa turut terlibat ke dalam grup WhatsApp yang diberi nama Buku Kampus Pergerakan. Dari keseluruhan anggota yang dapat dikumpulkan kembali berjumlah 56 anggota yang tentunya bisa memberikan kesaksian keterlibatannya sebagai aktivis mahasiswa UJB.
Menurut Heroe Waskito yang disampaikan kepada saya maksud dan tujuan dibentuknya grup WhatsApp ini ingin meluncurkan buku kesaksian sejarah berjudul Kampus Pergerakan - Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986-2026 untuk mengenang 28 tahun usia Reformasi 1998 khususnya keterlibatan para aktivis mahasiswa UJB dalam proses perjuangan yang intens dan kritis dalam perlawanan terhadap kekuasaan otoriter militeristik Soeharto pada masa era Orde Baru.
Tampaknya tidak semua dari 56 anggota dapat memberikan kesaksiannya. Tidak begitu jelas apa yang menjadi alasan krusial mereka tidak mau memberikan kesaksiannya. Apakah karena faktor lupa mengingat kejadiannya sudah memakan waktu lebih dari tiga dasawarsa? Apakah ada faktor rasa canggung akibat lama tidak pernah bertemu kembali? Apakah ada faktor kepentingan lain yang menganggap kejadian yang dialaminya dulu sudah tidak penting lagi?
Memang saya akui betapa tidak mudah untuk mengingat kembali setiap peristiwa yang dilakoni oleh kawan-kawan yang terjadi lebih dari tiga dasawarsa yang silam. Kadang dokumentasi klipingan koran majalah, pamflet dan photo phisik yang masih tersimpan sebagai media untuk membantu mengingatkan kembali peristiwa yang terjadi pada lembaran kertas photo tersebut.
Faktanya masih banyak kawan-kawan memiliki keterbatasan menyimpan dokumentasi lembaran photo phisik mengingat usia waktu yang bertambah telah membuat kondisi photo phisik menjadi rusak. Apa lagi banyak yang terlambat untuk mengkonversikan kembali melalui scanning digital.
Kendala dari keterbatasan inilah dicapai kesepakatan agar semua kawan yang hadir sebagai anggota di grup WhatsApp diupayakan untuk saling melengkapi dalam setiap kekurangan untuk menyampaikan kesaksianya. Kadang ada kawan yang betul-betul lupa setelah diingatkan kembali oleh kawannya akan menjadi teringat kembali.
Tampaknya ada yang berbeda dari kesaksian sejarah yang disampaikan oleh kawan-kawan dengan kesaksian yang saya sampaikan. Sudah bukan menjadi rahasia di kalangan aktivis yang lain, kalau saya sejak terjun menjadi aktivis mahasiswa selalu mencatat setiap kejadian ke dalam catatan pribadi buku harian saya. Sehingga saya dapat tahu tanggal dan jamnya setiap perjalanan hidup saya yang menyangkut segala aktivitas selama melakoni menjadi aktivis mahasiswa.
Jadi untuk mengurai setiap kejadian pada masa saya menjadi aktivis mahasiswa, saya hanya mencontek kembali lembaran demi lembaran dari catatan yang saya tulis sendiri di dalam catatan pribadi buku harian saya. Sehingga memori otak saya menjadi ringan dan tidak terkuras untuk mengingat-ingat kembali pada masa-masa peristiwa yang lebih dari tiga dasawarsa yang silam.
Perlawanan Melalui Organisasi Internal Kampus
Dalam perjuangan kawan-kawan aktivis mahasiswa UJB khususnya yang memulai kiprahnya dari tahun 1990 hingga berakhir 1995 dalam proses waktunya secara bertahap memiliki tiga organisasi di internal kampus sendiri.
Pertama, Ikatan Mahasiswa Universitas Janabadra (IM-UJB) sebagai organisasi induk atau inti. Kedua, Komite Pembelaan Mahasiswa Universitas Janabadra (KPM-UJB) sebagai organisasi yang berfungsi sebagai sayap yang bergerak di bidang advokasi di bawah naungan IM-UJB. Ketiga, Kelompok Studi Formasi sebagai organisasi yang berfungsi sebagai sayap kelompok studi di bawah naungan IM-UJB.
Perlu dipertegas di sini bahwa ketiga organisasi internal kampus ini berkiprah secara mandiri, otonom dan independen, artinya di luar tanggung jawab lembaga kemahasiswaan resmi seperti Senat Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa dan bukan di bawah naungan pihak rektorat universitas.
Ikatan Mahasiswa Universitas Janabadra (IM-UJB)
Saya tidak bisa banyak menguak secara detail awal terbentuknya IM-UJB di sini sebab banyak kisah proses perjalanan terbentuknya wadah berkumpulnya para aktivis mahasiswa UJB dari mulai tahun 1990 hingga berakhir 1995.
Awal untuk membentuk IM-UJB ini tidak serta-merta melalui seremonial yang mendapat dukungan dari pihak petinggi kampus. Organisasi ini hadir secara mandiri dan tidak melibatkan banyak personil anggota. Organisasi ini terbentuk dengan seiringnya waktu mengalir yang hanya mengandalkan rasa kepedulian dan keprihatinan sepenanggungan yang sama terhadap kondisi corat-marutnya demokrasi dan hak asasi manusia di bawah rezim Orde Baru yang otoriter dan militeristik.
Satu persatu mereka yang awalnya tidak saling mengenal tapi sering melakukan tatap muka dan memiliki ikatan idealisme emosional yang sama akhirnya saling berkumpul sehingga berproses untuk membentuk wadah organisasi bernama IM-UJB. Awalnya hanya beberapa anggota teman saja kemudian antar teman saling membawa teman ke teman sehingga menggurita menjadi banyak anggota yang turut membesarkan IM-UJB.
Beragam kasus dari isu internal kampus sampai menjalar ke berbagai isu di tanah air berhasil diangkat oleh IM-UJB melalui berbagai petisi dan aksi protes yang tidak bisa saya uraikan satu persatu di sini. Anda bisa membaca secara detail di Buku Kesaksian Sejarah berjudul Kampus Pergerakan - Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986-2026 yang sudah dipublikasikan melalui edisi cetakan pertama, Mei 2026.
Komite Pembelaan Mahasiswa Universitas Janabadra (KPM-UJB)
Pada tanggal 5 Januari 1991 melalui kesepakatan forum internal IM-UJB telah dibentuk wadah kepedulian di bidang advokasi yang diberi nama KPM-UJB yang tujuannya untuk membela kepentingan hak-hak kebebasan mahasiswa dari ancaman represif kekuasaan yang otoriter.
Dari awal berdirinya KPM-UJB hingga sampai berakhir, tampaknya belum pernah terjadi regenerasi pada kepengurusan Ketua Umunya. Ini artinya saya yang selalu menjadi ketua umumnya dari mulai tahun 1991 sampai tahun 1995.
Beragam kasus dari isu internal kampus sampai menjalar ke berbagai isu di tanah air berhasil diangkat oleh KPM-UJB melalui berbagai petisi yang tidak bisa saya uraikan satu persatu di sini. Anda bisa membaca secara detail di Buku kesaksian sejarah berjudul Kampus Pergerakan - Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986-2026 yang sudah dipublikasikan melalui edisi cetakan pertama, Mei 2026.
Kelompok Studi Formasi
Kelompok Studi Formasi didirikan oleh kawan-kawan dari IM-UJB pada tanggal 5 Juli 1993. Tidak heran jika alamat dari sekretariat Kelompok Studi Formasi ini alamatnya sama dengan yang ditempati oleh sekretariat IM-UJB di sebuah rumah kontrakan yang berada di tengah kampung padat penduduk Kricak Kidul RT 31 RW 07 No.249 Yogyakarta.
Ada tiga pengurusan inti pada Kelompok Studi Formasi. Heroe Waskito ditunjuk sebagai ketua, sedangkan jabatan sekretaris ditugaskan kepada Muhammad Choiri, dan Koordinator Pelaksana dipercayakan kepada Heri Sebayang.
Sebagai aktivis mahasiswa yang berjuang dalam aksi perlawanannya kepada kekuasaan otoriter militeristik pada masa era junta militer Orde Baru tentunya tidak berkutat dalam scope wilayah kampus sendiri dalam melakukan perjuangan untuk dapat terlepas dari belenggu kekuasaan junta militer Orde Baru.
Memang harus dibutuhkan keterlibatan eksternal kekuatan pressure sepenanggungan yang ideal dalam tim kerja sama yang baik yang berangkat dari cita-cita yang sama antar aktivis mahasiswa pada tiap-tiap kampus Selama keterlibatan saya sebagai alumni aktivis mahasiswa UJB hanya ada dua organisasi eksternal yang dilakoni oleh para aktivis mahasiswa UJB jauh sebelum menggaungnya aksi Reformasi 1998: ForumKomunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) dan DewanMahasiswa Pemuda Yogyakarta (DMPY).
Forum Komunikasi Mahasiswa Yoyakarta (FKMY)
FKMY resmi didirikan pada tanggal 10 Oktober 1990 sebagai wadah perjuangan berkumpulnya seluruh elemen aktivis mahasiswa di Yogyakarta. Ada enam komisariat kampus yang ada dalam FKMY, antara lain: KM-UGM, SM-UII, GPK-ISI, KMPD-IAIN, Lingkaran-UMY dan IM-UJB.
Hanya setahun kiprah para aktivis mahasiswa UJB terlibat di FKMY sebagai organisasi eksternalnya yang pertama mengingat FKMY resmi bubar pada tanggal 10 Oktober 1991 akibat perselisihan para anggota di dalamnya.
Beragam kasus dari isu di tanah air yang berhasil diangkat oleh FKMY melalui berbagai aksi protes dan perlawanan yang melibatkan kawan-kawan IM-UJB. Aksi solidaritas terhadap para korban pembebasan tanah secara paksa disertai intimidasi di Kedung Ombo, Jawa Tengah (1985-1991). Menolak putusan hakim di Pengadilan Negeri Yogyakarta terhadap terpidana subversib Bambang Isti Nugroho dan Bambang Subono (1989). Menolak putusan hakim di Pengadilan Negeri Yogyakarta terhadap terpidana subversib Bonar Tigor Naipospos yang menyebabkan saya sebagai korban kekerasan aparat kepolisian Brimob sehingga harus terbaring selama tiga hari di Rumah Sakit Bethesda (1990) ---untuk insiden kekerasan aparat ini dapat Anda baca di postingan tulisan saya berjudul Intrograsi dan IntimidasiBerakhir di Rumah Sakit Bethesda. Aksi solidaritas Tiananmen berdarah dan menolak kehadiran PM Li Peng ke Indonesia (1990) --untuk aksi ini dapat Anda baca di postingan tulisan saya berjudul Menolak Li Peng Sebagai Wujud Solidaritas Tiananmen Berdarah. Tentunya masih banyak yang lain yang tidak bisa diurai satu persatu di sini.
Selanjutnya untuk pembahasan detail perihal terbentuknya hingga berakhirnya FKMY ini dapat Anda baca kembali dalam postingan tulisan saya berjudul FKMY Setahun Berkibar Setahun Bubar.
Dewan Mahasiswa Pemuda Yogyakarta (DMPY)
Setelah bubarnya FKMY terbentuk dua kubu organisasi. Kubu pertama terdiri dari para aktivis mahasiswa yang ada GPK-ISI, KMPD-IAIN, Lingkaran-UMY dan IM-UJB mendirikan Dewan Mahasiswa Pemuda Yogyakarta (DMPY) yang lokasi rumahnya masih sama di jalan Garuda, Condong Catur. Sedangkan untuk kubu kedua terdiri dari para aktivis mahasiswa yang ada di KM-UGM dan SM-UII mendirikan Serikat Mahasiswa Yogyakarta (SMY) tampaknya harus kembali ke rumah gang Rode.
Beragam kasus dari isu di tanah air yang berhasil diangkat oleh DMPY melalui berbagai aksi protes dan perlawanan yang melibatkan kawan-kawan IM-UJB. Aksi solidaritas para korban pembebasan tanah di Nipah, Sampang, Madura dan Blangguan, Situbondo, Jawa Timur (1993). Aksi solidaritas para korban pengebirian terhadap hak-hak para buruh di perusahaan industri PT Sibalec, Yogyakarta (1995-1996). Aksi solidaritas para korban pengalihan fungsi lahan tanah dari Pertanian menjadi kawasan perekonomian di Gedebage, Bandung, Jawa Barat (1995). Aksi solidaritas para korban pembebasan tanah secara paksa di Koto Panjang, Riau (1993). Tentunya masih banyak yang lain yang tidak bisa urai satu persatu di sini.
Hanya terbatas sampai di sini kesaksian dari kiprah perjuangan saya sebagai aktivis mahasiswa UJB yang tercatat dalam buku Kampus Pergerakan - Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986-2026.
Tentunya regenersi sesudah saya banyak lahir aktivis mahasiswa menyambut keruntuhan rezim otoriter militeristik Soeharto menjelang reformasi hingga pasca-euforia reformasi 1998. Semua kiprah dan peran yang dilakukan oleh adik-adik aktivis mahasiswa UJB sesudah saya tentunya tidak klah banyak ditulis dalam buku kesaksian sejarah Kampus Pergerakan - Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986-2026.