CLOSE ADS

Mengenang Tiga Lagu Harapan Anak-Anak Korban Perang Rindukan Perdamaian

Mengenang Tiga Lagu Harapan Anak-Anak Korban Perang Rindukan Perdamaian

Ada tiga lagu yang sampai sekarang masih tetap saya kenang ketika setiap kali terjadinya adu amuk peperangan antar bangsa dan negara yang selalu dijadikan solusi akhir untuk menyelesaikan masalah. Jika dilihat dari usia album perdana dari ketiga lagu ini tampaknya memang sudah sangat lama beredar pada sekitar tahun 1980-an dan 1990-an. 

Ketiga lagu yang saya maksud ini, pertama adalah lagu berjudul Suara Perdamaian yang dilantunkan oleh Maman Phiul dalam album perdananya Teori Darwin yang beredar pada tahun 1992. Kedua, lagu berjudul Salam Kerinduan yang dilantunkan oleh Yono Slalu dalam album Gara-Gara Suzanna yang digarap bersama Ikatan Ngamen Indonesia (INI) tahun 1989. Ketiga, lagu Kabar Dari Jalanan Beirut yang dilantunkan oleh Yono Slalu dalam album Sebuah Tragedi Suminten yang digarap bersama Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) tahun 1984. 

Sebagai catatan di sini, khusus untuk Suara Perdamaian dan Salam Kerinduan sudah acap menemaniku ketika saya masih duduk sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogjakarta. Sedangkan untuk Kabar Dari Jalanan Beirut sudah biasa menemaniku singgah ketika saya duduk di bangku SMA kelas II di salah satu sekolah menengah atas swasta di Jogjakarta.

Ketiga lagu ini konon terinspirasi oleh perang saudara yang berkecamuk di Lebanon sekitar tahun 1975  hingga 1990. Perang saudara selama 15 tahun ini telah banyak merenggut warga sipil. Tercatat ada kurang lebih nyawa 230 warga sipil, sekitar seperempat populasi manusia yang berada di negara tersebut mengalami luka-luka dan sekitar 350 ribu warga sipil mengungsi.

Sejarah telah mencatat berulangkali betapa yang namanya peperangan selalu akan berakibat pada ribuan nyawa warga sipil melayang sia-sia dan hancurnya perdamaian dunia pasti akan berujung pada pembantaian nilai kemanusiaan menjadi sampah-sampah peradaban yang berserakan berbaur menyatu bersama puing-puing bangunan pemukiman di sana-sini. Tidak ada lagi moralitas yang bisa dipetik dan diraih dalam peperangan kecuali tercabiknya kehidupan dan terkoyaknya perdamaian.

Pada setiap kali kehidupan dan perdamaian dunia terusik oleh angkara peperangan, misalnya seperti perang saudara antar etnis Serbia versus Kroasia dan Serbia versus Bosnia sejak jatuhnya negara Republik Federal Yugoslavia (1992-1995), serangan tentara Koalisi menginvasi Irak yang berakibat pada hilangnya satu juta lebih nyawa warga sipil Irak (2003-2011) dan sebagainya, maka Salam Kerinduan, Suara Perdamaian dan Kabar Dari Jalanan Beirut selalu hadir mengisi meredam kegelisahanku.

Betapa kini tidak terasa ketika waktu merambat ke tahun 2021 ketika usia saya merangkak ke kepala lima, lagi-lagi Salam Kerinduan, Suara Perdamaian dan Kabar Dari Jalanan Beirut tetap relevan membangkitkanku untuk bergegas menyanyikannya kembali, terlebih sekarang masyarakat internasional dikejutkan oleh agresor Israel ke Palestina yang dalam sekejab telah meluluhlantakkan nyawa warga sipil Palestina yang tidak sedikit.

Salam Kerinduan  

Hari-hari dalam hidup ini kita menutupi manusia melangkah tanpa pilar keimanan. Sampai kini telah membayangi langkah sang mentari menebar kesuraman menyulut kenistaan. Kapan hidup ini bersemi kembali jauh sengketa dan segala pembantaian manusia. Pengasih Penyayang beri kepastian tepis kezaliman buktikan sebuah kebenaran. Pengasih Penyayang buka hati mereka agar kehidupan tetap selalau terjaga selamanya.

Suara Perdamaian

Di saat dunia semakin tua kebisingan datang dan pergi di sana oh di sana tak pernah ada diam damai kami semakin resah. Angkara meraja terasa keangkuhan berdendang tawa di sana oh di sana semua sama saja cinta kasih semakin hilang. Bagaimana kami tidur tenang sementara mereka menyanyikan suara peperangan damaikanlah damai percaturan dalam satu cinta. Alam semakin tak ramah melihat tingkah kita yang tak pernah merasa puas.
 

Kabar Dari Jalanan Beirut 

Kami yang tak pernah merencanakan hadir di sini dan kini harus melangkah pergi. Adalah kami kanak-kanak perdamaian yang dibesarkan kekerasan. Kami yang menatap hidup tanpa kepastian demi kemerdekaan. Adalah kami yang berlari di antara puing dan hujan peluru. Oh Tuhan dan dunia menangis karena hanya bisa meratap setiap langkah kita yang letih. Oh Tuhan katakan di mana kami harus berpijak.

Joe Hoo Gi


 Sampaikan kritik Anda kepada artikel kami di atas: Mengenang Tiga Lagu Harapan Anak-Anak Korban Perang Rindukan Perdamaian melalui kolom komentar yang sudah kami sediakan.




Dapatkan pemberitahuan setiap ada artikel terbaru