29 Agustus 2020

Mogi Darusman, Sang Aktivis Dalam Juang Musikus Mbeling

Mogi Darusman, Sang Aktivis Dalam Juang Musikus MbelingBagi penggemar musikus mbeling di tanah air yang kredo musiknya selalu tidak terlepas dari kritik sosial, nama Mogi Darusman (Alm.) yang acap dipanggil MogiD tentunya tidak akan asing di telinga para penggemarnya.

Sosok kehadiran pria kelahiran di Bogor, 13 September 1947 ini tentunya tidak sendirian, masih ada beberapa musikus mbeling lainnya yang kehadirannya dapat disejajarkan dengannya, seperti Iwan Fals, Doel Sumbang, Tom Slepe (Alm.), Wanda Chaplin (Alm.), Harry Roesli (Alm.), Leo Kristi (Alm.) dan masih banyak yang lain.

Memang kehadiran musikus mbeling di tanah air dari dulu sampai sekarang masih dalam posisi yang serba minoritas dan boleh dibilang langka. Tidak bisa dipungkiri jika kehadiran para musikus mbeling di tanah air memang tidak sederas seperti berjamurnya musikus lagu cengeng yang kredo tembang musiknya selalu bermuara ke selera pasar.

Selebritas di antara sesama saudara kandung pada sosok MogiD ternyata ada kemiripan dengan musikus mbeling Alex J Mariat. Jika Alex J Mariat bersaudara kandung dengan Katon Bagaskara dan Nugie, maka MogiD bersaudara sepupu dengan Candra Darusman dan Marzuki Darusman (Alm.) mantan Jaksa Agung periode 1999-2001.

Meski MogiD dan Candra Darusman sama-sama memilih jalur sebagai seniman musik, hanya saja Candra Darusman lebih fokus ke jalur irama jazz an-sich, sedangkan MogiD lebih memilih sebagai seniman yang serba gelisah oleh keadaan yang tidak memihak dan darah idealis juangnya cukup ditumpahkan secara total ke jalur musik melalui pesan-pesan lagunya yang sarat protes dan perlawanan.

Sudah menjadi catatan tersendiri yang tidak bisa didustakan jika musisi yang memilih jalur ke musikus mbeling selalu saja berhadapan dengan risiko keamanan, seperti album kasetnya terpaksa tidak bisa beredar, albumnya yang sudah beredar tapi mendadak dibredel di tengah jalan, dintrograsi dan dicekal tidak boleh manggung. Kondisi risiko keamanan ini tentunya juga pernah dialami oleh MogiD, seperti album kasetnya ditarik dari peredaran, dipersulit untuk mendapatkan ijin manggung dan pernah diintrograsi di kantor Polsek Senayan Jakarta.

Dapat Anda bayangkan ketika Negara masih dalam kependudukan kekuasaan otoriter Orde Baru yang serba sentralistik di mana hak kebebasan berpendapat adalah hak yang sulit dirasakan oleh warga negaranya, tapi MogiD berlagak seperti sang aktivis oposisi berani melakukan kritik terbuka lewat pesan lagu-lagunya ketika kekuasaan rezim Suharto sedang galak-galaknya memberangus segala hal yang berbau demokrasi dan hak asasi.

Jika saya melihat jejak rekam dari kepiawaian pria yang menikah dengan perempuan berdarah Jerman bernama Gizele ini ternyata bakat karier musiknya sudah ditempa secara matang dan sudah malang melintang sebagai musisi di berbagai negara di Eropa. Tahun 1969 melalui industri rekaman di Belanda, MogiD merilis single album perdananya berjudul Born In A Second Time dan Most Confidentially. Sejak album perdananya beredar ke ranah publik, beberapa media cetak di seluruh kawasan Eropa mulai menuliskan sosok pria yang piawai memainkan musik rock, blues dan jazz ini yang jejak pilihan karir kredo musiknya disejajarkan atau sebanding dengan Bob Dylan dan Neil Young.

Pria yang juga menekuni seni teater, koreografi dan seni balet ini juga pernah ikut dalam ajang World Pop song Festival 1971 yang berlangsung di Tokyo Jepang. Dalam ajang Festival 1971 ini, MogiD membawakan karya lagunya sendiri berjudul Puppet On Life. Ketika ajang Festival 1971 itu kehadiran MogiD tidak mewakili negara Indonesia, melainkan mewakili negara Austria. Pria yang pernah mengenyam pendidikan formal di sebuah konservatorium musik di jurusan Penata Musik dan Instrument Gitar selama lima tahun ini juga pada tahun 1975 pernah mengikuti Festival El Boccacio di Barcelona, Spanyol dan Folk Song Festival di North Ontario, Kanada.

Pria yang di mana-mana selalu terbiasa mengantungi harmonika di kantung celananya dan pernah bermain dalam film layar lebar sebagai peran antagonis di Perawan Desa (1978), Di Ujung Malam (1979), dan Dokter Karmila (1981) ini pernah beberapa tahun absen dari semua pemberitaan media. Publik mengetahui kiprah terakhirnya ketika MogiD merilis album kasetnya berjudul Pusing pada tahun 1992. Tapi setelah itu MogiD seperti hilang ditelan bumi sebab sudah beberapa tahun tidak ada satupun media cetak yang memberitakan kabar keberadaannya. 

Lantas ujuk-ujuk terbersit kabar yang paling terakhir dari yang terakhir pada tanggal 18 September 2007 ketika senja mulai berlabuh pada pukul 18.00  WIB, penggemar musik mbeling di tanah air telah dikejutkan kabar duka: Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun,  MogiD berpulang untuk selama-lamanya dalam Keabadian setelah sekian lama  menderita sakit stroke komplikasi.

Selamat jalan MogiD pada usiamu yang mau beranjak 60 tahun. Betapa suguhan lagu-lagu mbelingmu tampaknya masih terkenang sepanjang masa. MogiD tetap konsisten dari awal hingga akhir hayat menjemputnya. Konsistensi MogiD telah mengingatkan saya kepada bait puisinya Chairil Anwar, Sekali Berarti, Sesudah Itu Mati. Semoga kehadiran lagu-lagu mbeling MogiD dapat menambah khazanah di blantika musik mbeling di tanah air.


Penulis: Joe Hoo Gi

Menekuni sebagai pengembang, perancang dan programmer web dan perangkat lunak pada sistem komputer yang saat ini tinggal di Jogjakarta. Sampaikan kritik Anda atas tulisan: Mogi Darusman, Sang Aktivis Dalam Juang Musikus Mbeling melalui kolom komentar yang tersedia.


Subscribe to our Newsletter

Dapatkan notifikasi dari mBambung Official melalui email Anda