>

Logika Nyungsep Oleh Lebay Corona



Hakikatnya tanpa kehadiran virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2, kita sudah terbiasa tanpa harus bersikap secara lebay dalam menghadapi berbagai ancaman virus penyakit mematikan seperti HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome), Avian Influenza alias Flu Burung, Ebola, MERS (Middle East Respiratory Syndrome) dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang sampai sekarang belum juga ada vaksinnya.

Virus HIV/AIDS yang bisa menyebabkan hilangnya imunitas tubuh manusia dalam melawan infeksi yang sampai sekarang belum ada vaksinnya pun, ternyata kita sampai sekarang tetap enjoy, tidak phobia dan lebay dalam menghadapi virus HIV/AIDS meskipun sudah merenggut korban jutaan manusia di belahan dunia, tapi realitas sampai hari ini telah membuktikan kepada kita betapa prostitusi atau bisnis lendir yang menjadi faktor resiko tertinggi timbulnya HIV/AIDS tetap masih semarak di seantero kehidupan manusia.

Virus Flu Burung yang ditularkan dari hewan unggas ke manusia yang berujung pada kematian bila tidak ditangani dengan tepat, ternyata kita sampai sekarang tetap enjoy, tidak phobia dan lebay dalam menghadapi virus H5N1 atau H7N9 meskipun banyak korban bergelimpangan mati mengenaskan, tapi realitas sampai hari ini telah membuktikan kepada kita betapa masih saja kita pantang menyerah untuk tetap mengkonsumsi daging ayam, penjualan daging potong ayam tetap diminati dan diburu dan di sana-sini masyarakat pencinta unggas hias tetap enjoy dengan hobinya memelihara burung dalam sangkar.

Bakteri Bacillus Anthracis yang biasa ditemukan di hewan ternak jenis ruminansia dan herbivora seperti sapi, kerbau, domba dan kambing dapat menularkan penyakit Antraks ke manusia ternyata juga kita sampai sekarang tetap enjoy, tidak phobia dan lebay dalam menghadapi bakteri Bacillus Anthracis meskipun penyakit infeksi jenis Antraks ini sangat menular ke sesama manusia, berbahaya dan sangat mematikan, tapi realitas sampai hari ini telah membuktikan betapa kita masih tetap doyan mengkonsumsi segala jenis menu makanan yang mengandung bahan daging sapi, kerbau dan kambing. Kondisi pada masyarakat di pedesaan pun sampai sekarang masih tetap enjoy berternak sapi, kerbau dan kambing.

Entah model logika yang bagaimanakah diterapkan oleh sebagian masyarakat kita, betapa mereka tahu kalau orang-orang yang ada disekitarnya mati bergelimpangan dengan cara mengenaskan bukan karena faktor Lebay Corona, melainkan akibat virus Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albocpictus yang setiap tahun selalu saja merenggut banyak korban yang tidak dapat tertolong. Tapi kondisi ini tidak lantas serta-merta membuat masyarakat menjadi phobia dan lebay.

Departemen Kesehatan baru-baru ini merilis betapa Indonesia menempati urutan nomor tiga di dunia penderita penyakit Tuberkulosis (TBC). Data akurasi diperoleh 100 ribu nyawa anak bangsa sendiri melayang untuk setiap tahunnya bukan disebabkan faktor Lebay Corona, melainkan akibat kuman Mycobacterium Tuberculosis yang ditularkan. Meskipun setiap tahunnya tercatat 100 ribu nyawa melayang akibat wabah TBC tapi kondisi ini tidak serta-merta membuat masyarakat menjadi phobia dan lebay.

Sampai sekarang kita tiada pernah mengingkari kalau kanker, stroke dan jantung telah banyak merenggut korban nyawa manusia tanpa mengenal strata dan kasta Tapi meskipun penyebab ketiga penyakit mematikan itu diakibatkan oleh kebiasaan gaya pola makan dan minum kita yang amburadul, tapi realitas sampai sekarang kita tetap enjoy, tidak phobia dan lebay dengan pola makan dan minum kita sehari-hari yang amburadul itu.

Tiada satu pun para penikmat rokok yang sudah tercandu oleh nikotin untuk berhenti merokok meskipun harga cukai rokok sudah dinaikkan berlipat ganda dan upaya pemerintah sudah memberikan stempel warning pada bungkus kemasannya betapa merokok dapat membunuhmu tapi masih saja para penikmat rokok tetap enjoy dengan pola kebiasaan mengkonsumsi nikmatnya aroma tembakau tanpa harus terjebak kepada phobia dan lebay.

Kalau realitas sudah menunjukkan demikian lantas mengapa kita bisa terperosok kepada lebay Corona? Lebay Corona dengan memborong habis masker dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) di pasaran. Lebay Corona dengan menyerbu kebutuhan pokok di pusat-pusat perbelanjaan (panic buying) seolah-olah dunia mau kiamat saja. Kondisi Lebay Corona telah menunjukkan kepada saya betapa tidak konsistennya sikap masyarakatku ini.

Bahkan gelinya lagi lebay Corona turut juga dimainkan oleh salah satu reporter TVOne yang menggunakan masker ketika membawakan berita dalam acara live di rumah pasien Corona di Depok, Jawa Barat. Lebih lebaynya lagi, masker yang digunakannya pun jenis masker respirator yang biasa digunakan untuk menghadapi gas beracun.

Betapa di satu sisi mereka bisa enjoy, tidak phobia dan lebay kepada virus-virus mematikan seperti HIV/AIDS, MERS dan SARS, tapi di sisi lain mereka mendadak bisa phobia dan lebay ketika menghadapi virus Corona? Apakah gejala lebay Corona dengan memborong habis masker, hand sanitizer dan bahan-bahan kebutuhasn pokok oleh karena mereka takut mati? Jika mereka takut mati lantas mengapa mereka tidak lebay dan takut mati ketika menghadapi virus HIV/AIDS, MERS dan SARS yang juga terbukti sama-sama galaknya dengan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2?

Akhirulkalam, saya menjadi penasaran sejujurnya entah siapakah yang bermain di air keruh dalam demam issue Lebay Corona ini? Semoga diskursus dari tulisan saya ini dapat mengembalikan kesadaran logika berpikir dari sebagian para anak bangsa sendiri yang beberapa waktu belakangan ini telah nyungsep oleh akibat gejolak Lebay Corona. Wallahu A'lam Bishawab.
(Joe Hoo Gi)






BUKA KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT