Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.



Model Lockdown Apakah Yang Kita Mau?

Saya sejak awal sudah dapat memprediksi betapa wabah pandemi Covid-19 boleh terjadi di negara mana saja, asalkan jangan pernah terjadi di Indonesa. Mengapa demikian? Sebab ketika Covid-19 menjalar ke Indonesia maka boleh bisa dipastikan banyak kepentingan politis dari para elite oposisi di Dalam Negeri dan Luar Negeri, tentunya dalam hal ini Amerika Serikat akan memainkan peranan aktifnya yang merucut menjadi agenda politik tersembunyi memanfaatkan semua akibat yang disebabkan oleh Covid-19 di Indonesia untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.

Kalau saja kondisi terparah wabah pandemi Covid-19 yang terjadi di Italia dan Iran itu terjadi di Indonesia, maka boleh jadi akan dapat mengancam Presiden Joko Widodo untuk lengser dari pucuk Pimpinan Negara. Dengan kata lain, kalau saja kondisi kualitas oposisi berpikir dari sumber daya manusia yang ada pada masyarakat Italia dan Iran itu kondisi kualitas oposisi berpikirnya sama dengan sumber daya manusia yang ada pada masyarakat Indonesia, maka boleh jadi Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte dan Presiden Iran Hassan Rouhani akan dilengserkan dari pucuk Pimpinan Negara.

Kalau saja kondisi yang terjadi di Wuhan itu terjadi di Jakarta, maka boleh jadi Indonesia bakal akan terancam chaos bukan disebabkan oleh Covid-19, melainkan kegaduhan para oposisi di dalam negerinya yang akan memanfaatkan wabah pandemi Covid-19 untuk meloloskan agenda politik tersembunyinya untuk menjatuhkan Jokowi dalam kursi kekuasaan. Apa lagi jika wabah Covid-19 turut mempengaruhi stabilitas sistem moneter dalam negeri.

Ketika grafik data kasus wabah pandemi Covid-19 semakin waktu merambat naik ke level red zone, maka di sinilah kekawatiran saya selama ini mulai mendekati kebenaran betapa saya tidak berhalu. sebab sebagian dari anak bangsa sendiri yang selama ini tidak pernah legowo pada kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019 mendadak secara kompak bersamaan ramai-ramai santer mengajukan petisi agar Pemerintah Jokowi segera melakukan lockdown atau karantina wilayah untuk meminimalisir laju wabah pandemi Covid-19 tidak meluas.

Dari semua negara yang terpapar Covid-19, ternyata hanya Indonesia satu-satunya Negara yang sebagian dari rakyatnya bertindak blunder telah mengkaitkan wabah Covid-19 seolah-olah Presiden Jokowi yang menciptakan wabah pandemi tersebut ada di Indonesia sehingga ada petisi untuk melengserkan Jokowi sebagai Kepala Negara. Padahal data wabah pandemi Covid-19 di Indonesia belum seberapa jika dibandingkan dengan Italia, Iran, Spanyol, Inggris, India, Amerika Serikat, Meksiko dan sebagainya, tapi anehnya rakyat di negara-negara tersebut tidak ada satu pun yang menuntut agar Kepala Negara harus mundur akibat wabah pandemi Covid-19.

Saya tidak tahu lockdown seperti apakah dan bagaimanakah yang kita kehendaki? Studi kasus model lockdown seperti di negara manakah yang kita kehendaki? Sebab sampai sekarang dari seluruh negara yang dikabarkan telah terpapar wabah Covid-19, ternyata hanya negara China yang betul-betul berhasil melakukan lockdown secara literal tanpa mengalami chaos sosial, politik dan ekonomi di dalam negerinya. Sementara tidak sedikit negara-negara yang mencoba melakukan lockdown secara literal justru yang terjadi sistem sosial, politik dan ekonomi di dalam negerinya mengalami chaos.

Ketika pemerintah pusat China mengumumkan lockdown untuk kota Wuhan, maka seluruh kekuasaan kota di bawah kendali Panglima Militer Tertinggi yang jelas sudah teruji dan diikuti oleh semua institusi tanpa terkecuali. Semua stasiun kereta, terminal bus dan bandara udara benar-benar di segel oleh aparat militer. Semua tempat keramaian harus berhenti secara total. Setiap detik aktivitas warga dimonitor secara ketat tanpa celah melalui sistem gadget IT.

Setiap orang diwajibkan mendownload sebuah aplikasi tertentu yang sudah dirancang oleh Negara untuk menentukan status merah, kuning dan hijau pada masing-masing warganya. Jika ada warganya diketahui berstatus merah maka langsung secara otomatis ada petugas datang yang memaksa membawanya ke Rumah Sakit. Jika berstatus kuning, maka dipaksa untuk dikarantina di dalam ruman sendiri dan tetap dimonitor setiap detik oleh petugas secara online. Sedangkan kalau berstatus hijau kondisi aman tapi tetap stay at home dan boleh dirasa perlu sewaktu-waktu keluar rumah.

Ketika Wuhan lockdown selama satu bulan, maka semua lalu lintas transaksi yang berkaitan dengan laju bisnis pasar berhenti seketika. Kehidupan masyarakat di Wuhan selama satu bulan berada di bawah kendali kekuasaan militer. Kalau kondisinya sudah begini, maka orang-orang di kota Wuhan selama satu bulan dipaksa tidak keluar rumah. Jika ada yang mencoba berani membangkang, maka urusannya berhadapan dengan hukum kekuasaan militer yang berbicara. Tidak ada perusahaan dan pabrik buka kecuali tempat tertentu yang di izinkan.

Selama Wuhan lockdown satu bulan, jangan berharap ada kebijakan konpensasi dari Negara berupa bantuan langsung uang tunai kepada rakyat Wuhan. Kebijakan ini dapat terjadi karena masyarakat di Wuhan adalah middle class yang memiliki tabungan untuk bertahan hidup lebih dari tiga bulan. Pemerintah pastikan harga semua makanan dari bahan sampai instan tidak mengalami kenaikan alias stabil. Negara melibatkan semua institusi untuk menjamin logistik dan memastikan makanan sampai di rumah setiap orang dan sistem pembayaran pun melalui aplikasi online yang sudah dihubungkan dengan aplikasi WeChat.

Negara hanya memberikan stimulus sekisar 1,2 trillion Yuan atau $174 billion dan tidak memangkas suku bunga kepada perusahaan-perusahaan di Wuhan yang terkena dampak lockdown. Stimulus ini diambil dengan harapan ketika Wuhan dalam kondisi unlock, maka mesin ekonomi tetap mengalami perputaran sustainable growth.

Selama Wuhan lockdown selama satu bulan, kebijakan Pemerintah Pusat China dengan cepat mengalih fungsikan semua gedung milik negara yang layak untuk dijadikan Rumah Sakit khusus pasien penderita Covid-19. Tidak berhenti sampai di sini, pemerintah dengan sumber daya yang serba memadai segera tanggap membangun Rumah Sakit darurat di semua propinsi yang terpapar Covid-19. Ribuan dokter dari paramedis militer dilibatkan langsung ke Rumah Sakit darurat tersebut.

Selama Wuhan lockdown, semua manajemen berjalan harus dikendalikan secara sistem IT. Sekali komando di keluarkan oleh Presiden, sistem big data dan egoverment China bekerja, sehingga koordinasi berlangsung cepat, efisien dan real time. Tidak mengenal adanya istilah terlambat. Semua lembaga riset turut bahu membahu menemukan vaksin dan menetukan jenis obat apa yang tepat untuk penderita Covid-19.

Apakah model lockdown yang diterapkan di Wuhan yang benar-benar kita kehendaki? Terus terang saya tidak percaya jika kita sanggup menerapkan lockdown secara literal seperti yang diterapkan oleh China selama satu bulan di Wuhan sebab realitas sampai hari ini tidak ada satu pun negara di dunia ini yang sanggup menerapkan model lockdown secara literal seperti yang dilakukan oleh China kepada masyarakatnya di wilayah Wuhan mengingat latar belakang politik, ekonomi, budaya dan agama yang ada pada kita dan negara-negara di luar China berbeda dengan apa yang ada di China.

Tidak sedikit negara mengalami chaos sosial, politik dan ekonomi ketika mencoba menerapkan model lockdown secara literal seperti yang dilakukan oleh China kepada masyarakatnya di wilayah Wuhan. Realitas sampai hari ini, only China can and we can not afford. Akhirnya semua negara hanya bisa menerapkan model lockdown dengan standard calm down yang lebih menekankan agar masyarakat tetap stay at home, social distance dan self quarantine.

Akhirulkalam, jika negera-negara besar seperti Amerika Serikat, Italia, Inggris, Spanyol, Jerman, Meksiko, India dan sebagainya mengalami chaos sosial, politik dan ekonomi di dalam negerinya akibat menerapkan model lockdown secara literal dengan meniru China melockdown Wuhan selama satu bulan, maka apakah Indonesia juga mau ngotot ikut-ikutan menerapkan lockdown secara literal di Jakarta? In conditions like this where the consistency of thinking can change every hour, then it's better for me to just wait and see. Wallahu A'lam Bishawab.



Baca Juga :



Load Comments

0 komentar:

Post a Comment

Joe Hoo Gi

 

Ketik dan Tekan Enter