05 April 2018

Jangan Jauhkan Puisi Dari Sukmanya

Jangan Jauhkan Puisi Dari Sukmanya
Kalau saja sampai ada sebuah ekspresi bernama puisi sampai diintimidasi, dipersekusi, diintrograsi dan bahkan sampai diadili maka saya lah orang pertama yang berada di barisan penolakan kesewenang-wenangan itu sebab puisi harus dilawan dengan puisi. Suka tidak suka adalah selera. Puisi tumbuh dari ekspresi. Puisi bukan tumbuh dari pesanan, dia bisa bebas berbicara apa saja.

Betapa jahatnya tirani jika puisi tertindas oleh tekanan. Pada puisi ada pesan hati merangkai persoalan di medan pikiran paling dalam. Menindas ekspresi bernama puisi sama saja menganiaya Tuhan sebab hanya kepada puisi aku bisa berbeda pendapat dan berdebat kepada Tuhan. 

Hanya melalui rangkaian puisi, manusia dapat dengan leluasa  berdialog dengan dirinya sendiri,  kepada alam dan Sang Penciptanya,  kepada entah berantah apa dan siapa. Biarkan kehendak bebas puisi  mengalir sesuai ritme bahasa yang dikelolanya. Meminjam istilah dari Sutardji Calzoum Bachri, biarkan kata-kata yang ada dalam puisi dapat terbebas dari kungkungan pengertian seperti dalam mantra.

Maknailah penghayatan puisi dengan apresiasi, interpretasi dan intropeksi. Hindari sejauh mungkin menghayati pesan-pesan puisi melalui intimidasi, persekusi dan intrograsi. Jangkaulah perbedaan dalam puisi melalui polemik. 

Sementara ada pendapat yang beredar ke tengah publik bahwa dikasuskan puisinya Sukmawati hanya sebagai aksi balas dendam karena sebelumnya Sukmawati pernah mengkasuskan pidato Habib Rizieq Shihab yang dianggap melakukan penghinaan kepada Pancasila. Kalau sudah begini, saya hanya bisa berkata, Wallahua'lam bish-shawabi. 



Penulis: Joe Hoo Gi

Menekuni sebagai pengembang, perancang dan programmer web dan perangkat lunak pada sistem komputer yang saat ini tinggal di Jogjakarta. Sampaikan kritik Anda atas tulisan: Jangan Jauhkan Puisi Dari Sukmanya melalui kolom komentar yang tersedia.


Subscribe to our Newsletter

Dapatkan notifikasi dari mBambung Official melalui email Anda