>

Mbak Titiek, Maafkan Jika Saya Belum Bisa Melupakannya



Mbak Titiek ini sekedar bercanda atau sengaja turut bersaing dalam kegaduhan suksesi 2019? Wallahu a'lam Bish-shawabi. Nama Jenderal Besar TNI (Purn.) Haji Muhammad Soeharto telah mengingatkan saya kepada Sang Tiran Kaliber yang berkuasa selama 32 tahun di Indonesia (1966-1998). 

Saya sampai sekarang sangat-sangat belum bisa melupakan serangkaian tragedi berdarah terhadap para anak bangsanya sendiri yang telah diperbuatnya dari mulai peristiwa tragedi berdarah pasca 1965, Tanjung Priok, Talangsari, Way Jepara, DOM Aceh, Petrus, Kedungombo, Marsinah sampai Widji Thukul. Apa prestasi serangkaian tragedi berdarah terhadap para anak bangsanya sendiri model beginikah yang wajib diajarkan di sekolah? Tentunya pertanyaan ini saya kembalikan kepada Mbak Titiek sendiri untuk menjawabnya. 

Mbak Titiek ini sekedar bercanda atau sengaja turut bersaing dalam kegaduhan suksesi 2019? Wallahu a'lam Bish-shawabi. Nama Jenderal Besar TNI (Purn.) Haji Muhammad Soeharto telah mengingatkan saya kepada Sang Koruptor Terwahid yang berkuasa selama 32 tahun di Indonesia (1966-1998). 

Saya sampai sekarang sangat-sangat belum bisa melupakan serangkaian kejahatan korupsi yang telah diperbuatnya. Konon menurut New York Time hartanya yang terlacak mencapai US$30 miliar dan menurut Transparency International hartanya yang terlacak mencapai 568 trilyun rupiah. Apa prestasi serangkaian kejahatan korupsi model beginikah yang wajib diajarkan di sekolah? Tentunya pertanyaan ini saya kembalikan kepada Mbak Titiek sendiri untuk menjawabnya. 

Mbak Titiek ini sekedar bercanda atau sengaja turut bersaing dalam kegaduhan suksesi 2019? Wallahu a'lam Bish-shawabi. Nama Jenderal Besar TNI (Purn.) Haji Muhammad Soeharto telah mengingatkan saya kepada Sang Pahlawan Pembangunan yang berkuasa selama 32 tahun di Indonesia (1966-1998). 

Saya sampai sekarang sangat-sangat belum bisa melupakan serangkaian jejak kebijakan pembangunan yang telah diperbuatnya tanpa ampun dari mulai klompencapir, Asas Tunggal Pancasila, penataran P4, stabilitas nasional, anti subversi, monopoli hingga sampai kepada Sentralisasi. Apa prestasi serangkaian jejak kebijakan pembangunan model beginikah yang wajib diajarkan di sekolah? Tentunya pertanyaan ini saya kembalikan kepada Mbak Titiek sendiri untuk menjawabnya. (Joe Hoo Gi)






BUKA KOMENTAR