Pansus Hak Angket di Tengah Amuk Kemelaratan Anak Bangsanya Sendiri

· | JOE HOO GI | 19/07/2017
Para anak bangsa sendiri hidup memahami nasi sebagai hak azasi, sementara anak-anak tanpa sekolah sedih melihat bapak-bapaknya terus menjadi kuli sembari menahan beban penyakit tuberkulosisnya di tengah para pejabat tinggi negaranya yang sibuk mengurusi Pansus Hak Angket
Ketika para anak bangsa hidup memahami nasi sebagai hak azasi dan anak-anak tanpa sekolah sedih melihat bapaknya terus menjadi kuli sembari menahan beban penyakit tuberkulosisnya di tengah para pejabat tinggi negaranya yang sibuk mengurusi Pansus Hak Angket.

JOEHOOGI.COM - Betapa sampai sekarang nyaris terasa tidak percaya dan tiada berdaya jika Dewan Perwakilan Rakyat setiap tahun berjalan hanya eksis menyaksikan kemelaratan para anak bangsa sendiri.

Selama puluhan tahun Indonesia merdeka sampai sekarang potret anak-anak kampung yang putus sekolah dan para pemuda kampung dibiarkan tanpa pekerjaan, sementara gema Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia yang berkumandang setiap tahun hanyalah pemahaman seremonial tanpa mereka pahami.

Betapa sampai sekarang potret kelestarian kemelaratan adalah pemandangan warna langit Indonesia dalam pembiaran, sementara para pejabat tinggi negara yang piawai dengan kegaduhan kasus-kasus korupsinya dan para elite partai politik terus saja meracau membawa nama kesejahteraan rakyat.

Betapa sampai sekarang para anak bangsa sendiri hidup memahami nasi sebagai hak azasi, sementara anak-anak tanpa sekolah sedih melihat bapak-bapak terus jadi kuli sembari menahan beban penyakit tuberkulosisnya di tengah para pejabat tinggi negaranya yang sibuk mengurusi Pansus Hak Angket.

Joe Hoo Gi
JOE HOO GI
Penulis reflektif multidimensi yang merespons beragam isu perdebatan berdasarkan analisis pribadi yang kritis, jujur, bebas dan independen.

Bacaan Terkait

 

Ikuti Setiap Bacaan Terbaru Kami