Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.



Tiga Catatan Koreksi Untuk HTI Dan Underbownya


Sampai sekarang saya tidak bisa memahami methode berpikir dari para aktivis yang berjuang dalam wadah ideologi dan organisasi masyarakat Hizbut Tahir Indonesia (HTI) dan underbownya. Methode berpikir HTI dan underbownya serba tumpang tindih,inkonsistensi dan  sektarian. Inilah beberapa catatan koreksi saya perihal methode berpikir HTI dan underbow -nya yang saya anggap serba tumpang tindih,inkonsistensi dan sektarian.

Pertama, HTI dan underbownya menolak methode perjuangan Partai Komunis Indonesia (PKI)  hanya pada dataran azas ideologi an-sich  tapi cita-cita pola perjuangan PKI yang ingin mewujudkan cita-cita perjuangannya untuk mengubah sistem azas Negara Kesatuan Republik Indoneia (NKRI)  sesuai azas ideologi sebagai azas tunggal adalah sama. Jika PKI bercita-cita ingin mengubah sistem negara sesuai Komunisme sebagai azas tunggalnya, sedemikian dengan HTI dan underbownya juga bercita-cita ingin mengubah sistem azas NKRI  sesuai Syariat Islam atau menurut istilah HTI dan underbownya  disebut dengan Daulah Khilafah

Konklusinya, PKI dan HTI dan underbownya meskipun memiliki perbedaaan ideologi yang krusial, tapi semangat perjuangan cita-citanya adalah sama-sama ingin melakukan perubahan sistem azas  NKRI  sesuai dengan azas ideologinya sebagai azas tunggal.

Kedua, HTI dan underbownya pada manifestonya dengan tegas menolak sistem Demokrasi. Padahal sistem Demokrasi yang telah menempatkan  HTI dan underbownya sebagai ormas yang legitimated  sesuai dengan hak kebebasan berserikat dan berkumpul. Jika sistem negara ini  otoriter anti demokrasi, maka jangan harap HTI dan underbownya  bisa survive.Beruntunglah  HTI  dan underbownya hadir ketika NKRI  tidak berada dalam sistem Kekuasaan Orde Baru yang otoriter anti demokrasi. HTI dan underbownya hadir ke tengah khayalak ketika  NKRI telah terlepas dari sistem kekuasaan Orde Baru.

Kerdilnya methode berpikir HTI dan underbownya yang paling krusial ketika di satu sisi mereka bercita-cita ingin mewujudkan sistem azas negara sesuai Daulah Khilafah, tapi di sisi lain pola perjuangan ideologis Hizbur Tahir mendapat penolakan dari negara-negara Islam seperti Malaysia,Brunai Darussalam,Yaman,Tunisia,Maroko,Turki, Arab Saudi,Yordania,Suriah,Lebanon, Libya,Mesir,Pakistan,Irak, Bangladesh, Kyrgystan, Tajikistan, Kazakhstan, Uzbekistan  dan masih banyak yang lainnya. Ironis, hanya negara-negara yang menganut sistem Demokrasi seperti di Indonesia,Inggris,Amerika Serikat,Kanada dan Australia yang dapat menerima kehadiran Hizbut Tahir sebagai hak warga negara untuk berserikat dan berkumpul.

Ketiga, acapkali HTI dan underbownya dalam setiap aksi perjuangannya di satu sisi selalu merujuk dan menempatkan anti kekerasan (non violence) sebagai garis idelogis perjuangannya. Ironis padahal di sisi lain, HTI dan underbownya dalam setiap aksi perjuangannya  selalu mengumbar kebencian terhadap perbedaan ideologis di luar HTI  dan underbow -nya sebagai ideologi yang sesat,musyrik,haram,kufur, fasiq,munafik,thoghut,bid'ah,jahiliyah dan kafir yang wajib dimusuhi. 

Kalau perjuangan HTI dan underbownya telah menempatkan kebencian terhadap perbedaan ideologis yang multikultural di luar  HTI dan underbownya sebagai musuh yang wajib diperangi, maka sama saja HTI dan underbownya telah melegalisasikan kekerasan antar anak bangsa sendiri yang multikultural sebagai jalan keluarnya. Semangat kebencian oleh  HTI  dan underbownya kepada perbedaan ideologis di luar HTI  dan underbownya merupakan methode perjuangan memaksakan kehendak yang alur perjuangannya sama dengan yang dilakukan oleh perjuangan PKI.

Inilah ketiga catatan koreksi saya dalam memahami methode berpikir dan aksi perjuangan HTI dan underbownya selama ini. Fenomenal konflik yang mengakibatkan kegaduhan antar anak bangsa sendiri yang multikultural senantiasa disebabkan oleh methode berpikir dan aksi perjuangan dari suatu kelompok ormas seperti HTI, Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI) dan lain-lain yang telah menempatkan perbedaan ideologis di luar kelompok ideologisnya sebagai musuh yang harus diperangi. Bagaimanapun memaksakan kehendak dengan mengubah keaneka-ragaman warna pelangi menjadi keseragaman satu warna, maka justru akan menghilangkan makna definisi dari keindahan pelangi itu sendiri. 

Kini semua kembali kepada kemauan otoritas Negara. Pertama, apakah Negara tetap menempatkan 4 Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika) sebagai acuan final otoritasnya untuk segera tidak lagi melakukan pembiaran terhadap HTI dan underbownya agar konflik kegaduhan  perbedaan antar idelogis anak bangsa sendiri yang multikultural dapat segera diakhiri. Kedua, apakah Negara tetap melakukan pembiaran terhadap kehadiran HTI dan underbownya yang rentan menyulut konflik antar anak bangsa sendiri di tengah bangsanya yang multikulturalKetiga, apakah para elite di tubuh HTI dan underbownya sendiri yang akan melakukan intropeksi dan perubahan pola berpikir perjuangannya  dari intoleran ke toleran sesuai semangat  Ke-Nusantara-an yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana yang telah disepakati oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah  agar peraudaraan sesama Muslim (Ukhuwah Islamiyah)  antara HTI dan underbow -nya sebagai saudara muslim termuda dan NU  sebagai saudara muslim tertua melalui Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) tidak saling memangsa antar saudara sendiri?



Baca Juga :



Load Comments

0 komentar:

Post a Comment

Joe Hoo Gi

 

Ketik dan Tekan Enter