Membangkitkan Orde Baru Melalui Proyek Isu Kebangkitan PKI

Membangkitkan Orde Baru Melalui Proyek Isu Kebangkitan PKI

Masih membekas dalam pikiran saya ketika sistem politik Indonesia masih dalam cengkraman kekuasaan otoriter Orde Baru, melalui sejarawan andalan Orde Baru, Brigjen TNI-AD (Purn.) Prof. Dr. Nugroho Notosusanto merilis sinema dokumenter sejarah Orde Baru (menurut saya lebih tepat disebut film doktrinasi propaganda Orde Baru) berjudul Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang disutradarai oleh Arifin C Noer.

Beruntungnya Saya Tidak Di-Robet-kan Ketika Negara Masih Berdoktrin Dwi Fungsi ABRI

 

Beruntungnya Saya Tidak Di-Robet-kan Ketika Negara Masih Berdoktrin Dwi Fungsi ABRI

Saya masih teringat ketika saya masih menjadi aktivis mahasiswa pada sekitar tahun 1990-an pada setiap ada aksi-aksi mahasiswa turun ke jalan selalu saja saya dan kawan-kawan aktivis lainnya tidak pernah lupa untuk menyanyikan lagu mars ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang sudah diplesetkan sebagai wujud perlawanan menolak kebijakan-kebijakan Rezim Militer Suharto yang menindas hak-hak kebebasan ekspresi kaum sipil di Indonesia.           

Menolak Lupa Wiji Thukul Di Pilpres 2019

Menolak Lupa Wiji Thukul Di Pilpres 2019

Saya tidak peduli siapa yang telah melenyapkan kehidupan Wiji Thukul. Sebab apalah artinya makna kepedulianku, kepedulian keluarga dan kepedulian kawan-kawannya jika terbukti selama 20 tahun mereka yang berjuang untuk mengungkap tabir peristiwa kejahatan kemanusiaan ini selalu saja kandas sia-sia tiada berbekas di ujung kesabaran tanpa batas.

Jika Kenyataan Tommy Suharto Mendaulat Sebaliknya

Jika Kenyataan Tommy Suharto Mendaulat Sebaliknya

Meskipun Majelis Hakim Agung diketuai Syafiuddin Kartasasmita tetap memvonis bersalah menghukum terdakwa Tommy Suharto dengan pidana 18 bulan penjara.

Mbak Titiek, Maafkan Jika Saya Belum Bisa Melupakan Bapakmu

Mbak Titiek, Maafkan Jika Saya Belum Bisa Melupakan Bapakmu

Mbak Titiek ini sekedar bercanda atau sengaja turut bersaing dalam kegaduhan suksesi 2019? Wallahu a'lam Bish-shawabi. Nama Jenderal Besar TNI (Purn.) Haji Muhammad Suharto telah mengingatkan saya kepada Sang Tiran Kaliber yang berkuasa selama 32 tahun di Indonesia (1966-1998). 

Mengenang Amuk 23 Mei 1997 Di Banjarmasin

Mengenang Amuk 23 Mei 1997 Di Banjarmasin

Maksud dari tulisan saya ini hanya sekedar berbagi nostalgia dari kesaksian saya untuk mengenang lembaran peristiwa sejarah 19 tahun yang silam betapa kekuasaan Orde Baru yang dibangun secara otoriter dan anti demokrasi selama 32 tahun telah membuat luka-luka penindasan yang dialami oleh segenap para anak bangsa dibiarkan semakin lebar menganga sehingga menjadi borok yang sakitnya terasa seperti jeritan amuk massa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, tidak terkecuali di Banjarmasin.

Hak Kebebasan Menulis Bukan Perkara Mudah Bagi Seorang Tapol

Hak Kebebasan Menulis Bukan Perkara Mudah Bagi Seorang Tapol

Ketika saya membaca buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, khususnya buku yang ditulisnya ketika Pram masih mendekam di dalam penjara sebagai tahanan politik (tapol), membuat saya menjadi bertanya-tanya dan penasaran, bagaimana Pram bisa terpenuhi daya konsentrasinya sebagai penulis dan hak kebebasannya untuk menulis selama mendekam di dalam penjara sebagai tapol? Bukankah selama Pram mendekam di Pulau Buru sebagai tapol, hak-haknya untuk menulis dibatasi, dipersulit, dilarang dan bahkan dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menulis karena waktunya habis untuk bekerja keras secara paksa? 

Semoga Dendam Sesama Anak Bangsa Cepat Berlalu

Semoga Dendam Sesama Anak Bangsa Cepat Berlalu

Kalau saja Rezim Orde Baru atas nama Negara tidak melakukan support dan pembiaran terhadap amuk para anak bangsanya sendiri yang anti PKI untuk serta-merta melakukan penghakiman kepada para anak bangsa sendiri yang diindikasikan sebagai PKI.

Komik Sebagai Media Kampanye Partai Politik Tahun 1955

Komik Sebagai Media Kampanye Partai Politik Tahun 1955

Masyarakat yang tidak berpendidikan, masyarakat yang tidak mengenal bangku sekolahan, masyarakat yang hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar dan masyarakat yang buta huruf adalah kondisi real masyarakat Indonesia di tahun 1955, ketika Indonesia Merdeka masih berumur sepuluh tahun.

Negara Wajib Menolak Gelar Pahlawan Nasional Untuk Suharto

Negara Wajib Menolak Gelar Pahlawan Nasional Untuk Suharto

Wacana yang digulirkan oleh sebagian dari anak bangsa yang meminta kepada Presiden Jokowi agar memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Suharto merupakan wacana usang yang sebelumnya pernah diusulkan hal yang sama di era pemerintahan SBY. 

Menguak Tragedi Pasca 1965 Melalui Media Komik

Menguak Tragedi Pasca 1965 Melalui Media Komik

Ketika seorang cendekia dari ilmu sosial mengungkapkan suatu peristiwa sejarah maka pengungkapannya akan berbeda dengan apa yang dilakukan oleh seorang seniman komikus. Seorang cendekia dari ilmu sosial ketika mengungkapkan suatu peristiwa sejarah maka ekspresi tangannya hanya digunakan untuk menulis.

Lentera Menolak Pembohongan sejarah Pasca 1965

Lentera Menolakj Pembohongan sejarah Pasca 1965

Hanya gara-gara menyajikan artikel headline berjudul  Salatiga Kota Merah yang isinya menolak pembohongan sejarah versi Orde Baru yang mengungkap berita di seputar peristiwa Gerakan 30 September 1965, maka majalah internal kampus  Lentera, yang diterbitkan  Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, justru berakhir dengan pembredelan yang dilakukan oleh Rektor UKSW atas desakan Polres Salatiga. 

Enny Arrow Di Tengah Arus Budaya Kemunafikan Karakteristik Bangsanya

Enny Arrow di Tengah Arus Budaya Kemunafikan Karakteristik Bangsanya

Majalah Men’s Health pada tahun 2003 pernah membuat jajak pendapat perihal dari manakah sumber pertama kali para responden mendapatkan pengetahuan tentang seks? Hasilnya 17,2% responden menjawab, membaca novel-novel karya Enny Arrow menjadi sumber pertama pengetahuan mereka tentang seks.

Tionghoa Target Korban Dalam Setiap Tragedi Politik Di Indonesia

Tionghoa Target Korban Dalam Setiap Tragedi Politik Di Indonesia

Kondisi huru-hara 1998 yang telah melahirkan sistem Reformasi pada Tata Kenegaraan kita justru telah diwarnai kekerasan rasisme kepada saudara-saudara sesama anak bangsa kita sendiri yang beretnik Tionghoa. 

Jahatnya Orde Baru Melenyapkan Perjuangan Alimin Sebagai Pahlawan Nasional

Jahatnya Orde Baru Melenyapkan Perjuangan Alimin Sebagai Pahlawan Nasional

Alimin bin Prawirodirdjo (1889-1964) adalah salah satu tokoh pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Karirnya sebagai aktivis pergerakan nasional dirintis pernah menjadi anggota  Budi UtomoSarekat Islam, pendiri Sarekat Buruh Pelabuhan  dan  sebagai salah satu tokoh inti Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Surat Terbuka Dewi Sukarno Kepada Presiden Soeharto

Surat Terbuka Dewi Sukarno Kepada Presiden Soeharto

Peralihan kekuasaan Indonesia dari Soekarno ke Rezim Militer Soeharto telah diwarnai insiden berdarah yang dialami oleh setengah dari jumlah anak bangsa Indonesia yang dituduh terlibat dalam peristiwa 30 September 1965.

Kepahlawanan Njoto Kandas Di Tengah Amuk Anak Bangsanya Sendiri

Kepahlawanan Njoto Kandas Di Tengah Amuk Anak Bangsanya Sendiri

Begitu sangat disesalkan jika perjuangan dan pemikiran dari seorang anak bangsa sendiri bernama Kusumo Digdoyo yang kemudian dikenal dengan nama Njoto yang lahir di Bondowoso 17 Januari 1927 justru kiprah jasa-jasa kepeduliannya untuk masa depan bangsa dan negara sampai sekarang namanya telah dieliminasikan dari buku-buku sejarah resmi.

Semaoen Aktivis Buruh Pertama Di Indonesia

Semaoen Aktivis Buruh Pertama Di Indonesia

Awal abad ke-20, Indonesia di bawah kekuasaan Hindia Belanda saat itu telah lahir kelas proletar yang terdiri dari buruh kereta api, pegawai kantor pegadaian, buruh perkebunan, buruh pabrik gula dan sebagainya.

Supersemar Legitimasi Prahara Berdarah

Supersemar Legitimasi Prahara Berdarah

Inilah Surat Perintah 11 Maret 1966 yang menjadi alat legitimasi prahara anak-anak bangsa Indonesia pasca 1965 di mana 89 juta lebih para anak bangsa telah tercabut hak hidupnya secara paksa tanpa proses peradilan.

Menguak Wajah Orde Baru Melalui Karikatur

 

Menguak Wajah Orde Baru Melalui Karikatur

Dua puluh dua tahun silam ketika kebebasan ekspresi masih terlampau sangat mahal di negeri ini seorang kawan saya dari institut senirupa Jogjakarta bernama: Sapto Raharjo yang acap dipanggil Athonk mencurahkan ekspresinya melalui tintanya.

Dapatkan pemberitahuan setiap ada artikel terbaru