Hantu Bolshevik dan Gestapu

Hantu Bolshevik dan Gestapu

Ketika Rusia dilanda revolusi tahun 1917 yang menyebabkan rezim Kekaisaran Tsar Nikolas II mengalami keruntuhan hingga sampai angkat kaki dari bumi Rusia, dunia Barat dilanda ketakutan masif dan tidak terstruktur akibat hantu revolusi Bolshevik

Imbas dari Revolusi di Rusia ini telah menyebar keseluruhan penjuru dunia sehingga menjadi ancaman fundamental yang membakar struktur lama keyakinan manusia sebab agama bukan lagi sesuatu yang sakral. 

Keberhasilan revolusi di Rusia segera menginspirasi para kaum revolusioner Marxisme di seluruh dunia. Betapa dunia tekah mencatat V. I. Lenin, Leon Trotsky dan Stalin menjadi penggagas utama lahirnya revolusi Bolshevik

Bahaya kepada hantu revolusi Bolshevik dianggap sebagai bahaya baru yang muncul karena dunia lama yang sedang bangkrut, perang antar negara berdaulat demi perebutan koloni-koloni baru. Membingkai dunia dalam cengkraman imperialisme ideologis yang terasa agak kaku. Dunia dalam kacamata itu terbagi antara dunia bebas dan kawasan kolonial. Dunia bebas dan dunia kolonial yang senantiasa dipersengketakan antar negara berdaulat. Besar kemungkinan akan menyulut konflik yang lebih luas sehingga perang akan menjadi pilihan utama. 

Revolusi Bolshevik memberi kesadaran bahwa untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan membutuhkan rakyat dan ideologi yang kuat. Dengan begitu  kekuatan revolusioner itu dapat menjadi agama baru dan menghancurkan kepercayaan dunia lama yang statis dan tidak bergairah menuju tatanan dunia baru yang lebih dinamis dan progresif. 

Tatanan dunia baru yang ada sebagai hasil dari revolusi Bolshevik adalah penghapusan kolonialisme, perombakan sistim pemerintahan feodalisme, pembentukan dewan Rakyat dan kesetaraan antar manusia menjadi magnet utama. Dunia Barat mengalami perubahan yang paling dramatis semenjak perjanjian Westphalia (1648).

Tanpa terasa akibat revolusi Bolshevik dunia terbelah menjadi dua bagian simetris Timur dan Barat. Dua kutub yang berseberangan secara ideologis segera menjadi medan laga pemikiran berporos Timur Komunisme dan Barat Kapitalisme sehinga konsekuensinya dunia mengalami masa Perang Dingin (1950-1990) yang tidak lebih ganas dari Perang Dunia II (1939-1945). 

Perang Dingin ini pula yang ikut mempengaruhi gejolak Republik muda Indonesia yang juga mengalami polarisasi pemikiran antar elit pemerintah baru dan para aktivis revolusioner dalam peristiwa PKI-Madiun (1948). 

Peristiwa Madiun tekah mengejutkan seluruh tataran pemikiran kelompok elitis seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir sebab mereka masih berkutat dalam perdebatan panas tentang apa dan bagaimana bentuk negara Indonesia ke depan. Sementara Musso, Semaun dan Amir Syarifuddin telah membentuk pemerintahan Republik Indonesia tandingan dengan model Bolshevik yaitu Front Demokratik Rakyat (FDR). Gerakan ini gagal untuk mengkudeta posisi Sukarno-Hatta yang didukung kaum  terpelajar sekaligus elit Indonesia moderen. 

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (Gestapu) merupakan gerakan paling manifes dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dipimpin oleh DN Aidit, Sam Kamaruzzaman dan Waperdam I Subandrio. Pada substansinya kudeta itu untuk mempertahankan dan sekaligus menggeser ke arah poros yang mirip bolshevisme. 

Poros Jakarta-Peking-Pyonyang disebut sebagai pihak yang paling berpengaruh terutama Peking yang mendukung gagasan kudeta. Adanya pertemuan khusus pada tanggal 1 Agustus 1965 antara ketua PKI DN Aidit dan ketua PKC Mao Tse Tung mensinyalir adanya bukti kuat bahwa gerakan kudeta itu  tidaklah berdiri sendiri. Melainkan adanya dukungan kuat dari pihak ketua PKC. 

Walaupun merupakan fakta bahwa Tiongkok telah  menanam saham dalam perpolitikan di Indonesia. Akan tetapi pengaruh Beijing terhadap PKI yang sebenarnya tidak seperti yang digambarkan oleh pemerintahan Soeharto (Zhou: 331). 

Sejarah sampai hari ini belum dapat membuktikan apakah Mou Tze Tung mengetahui peristiwa Gestapu. Boleh jadi Mao tidak diberitahu kapan pelaksanaan kudeta oleh Aidit. Karena soal etik revolusioner bahwa kondisi moral revolusioner yang berbeda antara Indonesia dan Tiongkok satu bangsa dengan bangsa lainnnya. 

Skenario kudeta pun mengalir membentuk kerja sama militer antara Peking dan Jakarta untuk memfasilitasi buruh dan tani sebagai Angkatan Kelima. Sekaligus berjanji akan mengirimkan puluhan ribu senjata untuk mendukung kudeta tapi hingga akhir babak kudeta nyaris seluruh tokohnya telah menghilang dan bantuan senjata tak kunjung tiba. 

Telah kita pahami bersama bahwa kudeta itu telah gagal mencapai puncaknya. Anti klimaksnya terjadi konflik sosial pasca Gestapu. Pengejaran dan pembunuhan yang diindikasikan sebagai anggota dan simpatisan PKI menjadi isu sentral yang tampaknya sulit untuk kita pahami sampai sekerang. Betapa Gestapu ini merupakan konflik elit politik yang jauh dari kehidupan masyarakat awam. Tapi efek dari konflik elit segera menyebar bagaikan sel yang hidup dan berbiak dengan cepat. 

Narasi tentang kudeta senantiasa dibuat sedemikian rupa menjadi persoalan politik yang aktual kekinian entah itu pro dan kontra. Gestapu akan senantiasa hidup bersama dengan kegagalan masa lalunya. Dia akan hidup bersama dengan rezim-rezim  berikutnya, entah itu kita atau mereka. sebagaimana Umberto Eco menulis judul buku The Inventing The Enemy. Wassalam. (T. Ipun Nasruddin Syah)

mBambung Official


 Sampaikan kritik Anda kepada artikel kami di atas: Hantu Bolshevik dan Gestapu melalui kolom komentar yang sudah kami sediakan.




Dapatkan pemberitahuan setiap ada artikel terbaru