Agustus 04, 2020

Blunder Teori Konspirasi dan Aksi Menolak Rapid dan Swab Test

Blunder Teori Konspirasi dan Aksi Menolak Rapid dan Swab Test
Sejak awal saya meragukan dan menolak teori konspirasi yang diajukan oleh Dr. Judy Mikovits, ilmuwan di bidang biokimia dari George Washington University, dalam video viralnya berjudul Plandemic yang menyebutkan bahwa pandemi virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 yang melanda di berbagai belahan negara di dunia dan sudah merenggut banyak korban nyawa manusia dari berbagai anak bangsa merupakan skenario dari konspirasi global yang dirancang secara sistematis dan masif.

Apakah Dr. Judy Mikovits juga akan berani berkesimpulan yang sama untuk menyebut adanya skenario konspirasi global ketika terjadinya misalnya wabah pandemi pes atau sampar pada tahun 1720 yang telah merenggut korban puluhan juta nyawa manusia melayang di berbagai negara belahan dunia termasuk di Indonesia?

Dr. Judy Mikovits yang hanya menyebut virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 sebagai skenario konspirasi global tanpa didukung data-data yang valid kecuali asumsi klaim justru menjadi blunder sebab wabah pandemi penyakit yang pernah melanda dunia tidak hanya virus Corona/Covid-19/ SARS-CoV-2, sebelumnya masih banyak ragam pandemi wabah penyakit yang pernah merenggut jutaan korban nyawa menausia melayang di berbagai belahan negara di dunia seperti campak (1644), malaria (1733), kolera (1817) dan masih banyak yang lain.

Demikian juga klaim asumsi blunder dari Dany Shoham, eks Perwira Intelijen Militer Israel, dan Hossen Salami, panglima Korps Pengawal Revolusi Islam,  yang menyebut bahwa  virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 adalah konspirasi yang sudah dirancang atau kebocoran dari laboratorium yang berasal dari senjata biologis, saya anggap sebagai asumsi subyektif, ngawur, asal jeplak dan sonder didukung dengan data-data yang valid.

Jika memang virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 berasal dari kebocoran laboratorium yang berasal dari senjata biologis milik China sebagaimana dituduhkan oleh Dany Shoham, maka tentunya China sudah memiliki vaksinnya, tapi realitasnya sampai hari ini virus Corona/Covid-19/SARS -CoV-2 telah merenggut nyawa manusia dari bangsa China sendiri hingga Pemerintah China harus melakukan karantina wilayah secara total di Wuhan selama satu bulan. Untuk mengingatkan kembali tulisan saya tentang karantina wilayah secara total di Wuhan dapat klik disini.

Sebaliknya jika virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 berasal dari senjata biologis milik Amerika Serikat sebagaimana dituduhkan oleh Hossen Salami, maka tentunya Amerika Serikat sudah memiliki vaksinnya, tapi realitasnya sampai hari ini virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 telah semena-mena merenggut ribuan nyawa manusia dari bangsa Amerika Serikat sendiri dan kondisi penyebaran virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 yang tidak berkesudahan telah menyebabkan kepanikan dan kelumpuhan kegiatan perekonomian di Amerika Serikat.

Teori konspirasi yang tidak kalah ngeyel dan keblinger datang dari klaim asumsi blunder Jerinx yang menyebut virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 bukanlah tergolong penyakit yang berbahaya dan mematikan,. Meskipun berbagai data fakta menunjukkan wabah pandemi virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 telah merenggut banyak korban nyawa manusia dari berbagai anak bangsa di dunia, tapi Jerinx menganggapnya sebagai suguhan yang diheperbolakan dan dilebaikan oleh permainan kekuatan konspirasi global.

Awalnya saya menganggap sosok Jerinx adalah seorang pakar kesehatan di bidang ahli virus seperti dr.Moh. Indro Cahyono. Tapi dugaan saya melesat jauh, boro-boro ahli di bidang virus, bahkan seorang yang pernah belajar secara akademis di dunia kesehatan pun tidak pernah digeluti oleh Jerinx..Sosok Jerinx  ternyata adalah seorang seniman an-sich yang dikenal khayalak sebagai drumer Band Superman Is Dead (SID).

Blundernya Jerinx tiada lain adalah Jerinx ingin mempermalukan dirinya sendiri di depan publik betapa seorang seniman an sich yang berhalusinasi berlagak sok tahu seolah-olah berperan sebagai seorang dokter yang berkompeten di bidang virologi kemudian  berbicara secara detail tentang virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2.

Apakah Jerinx juga akan megatakan hal yang sama kepada berbagai wabah pandemi penyakit yang pernah melanda di dunia ini seperti cacar air, campak, pes, malaria, kolera dan sebagainya yang telah merenggut korban puluhan hingga ratusan juta nyawa manusia melayang di berbagai negara belahan dunia termasuk di Indonesia adalah suguhan yang diheperbolakan dan dilebaikan oleh permainan kekuatan konspirasi global?

Bagaimana komentar dari Jerinx terhadap tim medis kesehatan yang berada di garda depan menangani para pasien virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 sehingga harus menerima resiko turut terpapar terjangkit virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 dan bahkan tidak sedikit mereka menjadi martir? Apakah Jerinx menganggap para dokter dan perawat yang menjadi martir dalam penanganan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 adalah para sosok boneka dan bukan manusia? Sedemikian juga dengan para pasien virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 apakah mereka hanya berpura-pura sakit sekedar menumpang tidur di Rumah Sakit?

Jika sikap keteguhan blundernya Jerinx terus dipelihara, sementara Jerinx dengan keteguhannya menolak protokol kesehatan seperti menolak rapid dan swab test, maka tentunya posisi Jerinx dan komunitasnya idealnya sadar diri untuk tidak berada di tengah khayalak masyarakat. Negara wajib mengawal Jerinx dengan komunitasnya untuk mengucilkan diri di suatu tempat tersembunyi yang jauh dari khayalak masyarakat yang tidak sependapat dengan sikap Jerinx yang membahayakan orang-orang disekitarnya.

Penulis: Joe Hoo Gi

Menekuni sebagai pengembang, perancang dan programmer web dan perangkat lunak pada sistem komputer yang saat ini tinggal di Jogjakarta. Sampaikan kritik Anda atas tulisan: Blunder Teori Konspirasi dan Aksi Menolak Rapid dan Swab Test melalui kolom komentar yang tersedia.


BUKA KOMENTAR