>

Budayawan Mbeling Remy Sylado Dari Sastra Sampai Lagu



Remy Sylado lahir dengan marga Tambayong di Malino, Ujung Pandang ibukota Sulawesi Selatan (sekarang diubah menjadi Makasar) pada tanggal 12 Juli 1945 bernama Yapi Panda Abdiel Tambayong, yang kemudian cukup disingkat dengan sebutan Yapi Tambayong.

Nama Remy Sylado merupakan nama samaran dari Yapi Tambayong. Selain Remy Sylado, ada beberapa nama samaran dari Yapi Tambayong, yaitu Dova Zilla, Juliana C Panda, Alif Danya Munsyi dan Jubal Anak Perang Imanuel. Tapi dari sekian banyak nama samaran, akhirnya Yapi Tambayong memutuskan Remy Sylado sebagai nama alias dari Yapi Tambayong. Akhirnya waktulah yang telah menentukan betapa sosok nama Remy sylado lebih familiar di telinga masyarakat ketimbang nama sebenarnya, Yapi Tambayong.

Nama Remy Sylado tidak serta merta lahir secara ujuk-ujuk. Nama itu diambil dari kenangan peristiwa romantisnya yang mencium seorang perempuan yang dicintainya sebagai cinta pertamanya pada tanggal 23 Juli 1961. Tanggal 23761 jika angkanya dieja melalui not nada maka akan terbaca re-my-sy-la-do.

Ada dua sosok peran yang digeluti oleh Remy sylado dalam karirnya. Sosok pertama sebagai budayawan yang banyak menghasilkan karya narasi sastra mbeling yang ditulisnya seperti novel, cerpen, puisi, naskah drama dan esai. Sosok kedua sebagai musikus yang beraliran folk country yang diksi lirik lagunya sarat oleh makna kosa kata mbeling sehingga memang berbeda secara umum dari kebanyakan karya musik Indonesia.

Kalau kita mengamati semua karya narasi sastra mbeling yang ditulisnya betapa semua karyanya tanpa terkecuali tidak dapat dipisahkan dari peran kembelingannya. Makna diksi mbeling di sini maksudnya betapa ekspresi karyanya memang berbeda dengan karya kesusastraan pada umumnya. Makna mbeling di sini dapat dijabarkan betapa pesan-pesan yang tersirat dalam setiap karyanya ingin melabrak ketabuan, membebaskan setiap karyanya agar siapa saja yang menikmati karyanya dapat menemukan realitas yang dihadapi dan mengolah kosa kata dari berbagai ragam bahasa dalam satu kalimat narasi secara detail, mudah dimengerti dan gamblang tanpa ada rasa takut diamuk oleh sistem kebekuan dan kebakuan ejaan Indonesia. Konklusinya, corak kembelinganya inilah yang justru membuat setiap karyanya unik, istimewa dan tentunya menjadi nilai tambah bagi khasanah kesusastraan Indonesia..

Akhirulkalam, meskipun beberapa puisi dan naskah dramanya sering saya ikuti tapi tidak sekomplit karya lagu-lagu mbelingnya yang sampai sekarang masih saya koleksi. Semoga kehadiran lagu-lagu mbelingnya dapat menambah khazanah di blantika musik di Indonesia yang selama ini belum banyak kita ketahui. (Joe Hoo Gi)







BUKA KOMENTAR