Loading...

Kalau Memang Kita Bukan Golput




Kalau memang kita bukan Golput, maka kita dihadapkan oleh dua kandidat pemimpin yang memang harus kita pilih. Pilihlah sesuai kehendak keyakinan hatimu. Ada nomor satu Jokowi-Amin dan ada nomor dua Prabowo-Sandi yang dapat kita pilih.

Kalau memang kita bukan Golput, boleh jadi aku memilih Jokowi-Amin dan kamu memilih Prabowo-Sandi, atau sebaliknya, sebab dalam demokrasi ada selera hak memilih untuk dipilih. Memilih tidak boleh harus sama pilihan. Tapi boleh jadi akibat faktor kebetulan, pilihan kita bisa sama pilihan.

Kalau memang kita bukan Golput, ada pilihan dua kandidat pemimpin yang harus kita pilih. Boleh jadi aku memilih Prabowo-Sandi, kamu memilih Jokowi-Amin, atau sebaliknya, sebab dalam pilihan ada selera. Namanya selera tidak perlu diseragamkan. Pilihlah sesuai kehendak keyakinanmu.

Kalau memang kita bukan Golput, maka biarkan pilihan itu seperti aneka bunga bermekaran. Ada Mawar, Melati, Kenikir, Kamboja sampai Bunga Bangkai. Misal kamu memilih Mawar, lantas aku menjatuhkan pilihan pada bunga Bangkai, atau sebaliknya, maka tetap saja Mawar dan Bangkai sebagai keagungan ciptaanNya yang tidak harus dirisaukan mengapa kamu memilih Mawar dan mengapa aku memilih Bangkai, atau sebaliknya.

Kalau memang kita bukan Golput, kita dihadapkan kenyataan di tahun 2019 berada di antara dua persimpangan jalan. Kita harus memutuskan untuk memilih dua jalan yang harus kita tempuh. Boleh jadi aku memilih terobosan ke jalan  Jokowi-Amin atau kamu mau memilih untuk melewati jalan Prabowo-Sandi atau sebaliknya, maka keduanya tetap jalan yang bebas dipilih untuk dilewati.

Kalau memang kita bukan Golput, kubu kampret dan kubu kecebong tetap saja kumpulan anak bangsa kita sendiri. Betapa harus kita sadari,  mereka yang ada di dua kubu kandidat pemimpin  ternyata ada kawan-kawan kita sendiri, ada para tetangga kita sendiri, ada para sedulur dan keluarga kita sendiri. Recommended, janganlah pernah merisaukan hanya karena perbedaan keyakinan pilihan politik.

Kalau memang kita bukan Golput, jika misal BukaLapak atas nama Achmad Zaki hanya menyebut harapannya kepada Presiden Baru di salah  satu cuitan Twitternya yang notabene tanpa ada penyebutan nama salah satu pasangan calon Presiden, lantas jika istilah Presiden Baru ternyata didenotasikan selain bukan Jokowi oleh  sebagian Netizen,  maka mengapa istilah Presiden Baru oleh Zaki harus dirisaukan? Apa yang salah pada anak bangsa sendiri bernama Achmad Zaki kalau memang dia bukan Golput?

Salam,
Joe Hoo Gi




Mau komentar? Klik di sini!

0 komentar:

Post a Comment

Joe Hoo Gi menolak memuat materi tulisan komentar yang mengandung unsur suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), pornografi, ujaran kebencian, menganjurkan tindakan kekerasan dan pelanggaran Undang-Undang ITE.



 

Ketik dan Tekan Enter