Kampung Badran di Tengah Malam Hari

· | JOE HOO GI | 01/11/2013
Kampung Badran di Tengah Malam Hari
Oktober 1991 acara Dies Natalis XXXIII Universitas Janabadra Yogyakarta, saya membacakan sajak berjudul Badran Di Tengah Malam Hari yang kutulis ketika pertama kali saya tinggal sebagai mahasiswa indekosa di kampung Badran pada tahun 1987

JOEHOOGI.COM - Oktober 1991 ketika acara peringatan Dies Natalis XXXIII Universitas Janabadra Yogyakarta, saya diberi kesempatan untuk membacakan sajak. Sengaja kupilih sajakku berjudul Badran Di Tengah Malam Hari yang kutulis ketika pertama kali saya tinggal sebagai mahasiswa indekosa di kampung Badran pada tahun 1987.

Tiada kuduga jika sajak ini ternyata mendapat juara pertama. Untuk mengenangnya kembali, saya menbcoba untuk menampilkan kembali sajak Badran Di Tengah Malam Hari. Sebagai catatan di sini, Badran waktu itu dikenal sebagai area underground tempat mangkalnya kaum miskin kota sebab kampung ini berada di tengah kota Yogyakarta.

Temon namanya 
bocah lanang belasan tahun 
tidak mengenal bangku sekolah 
tidak punya satu bapak 
kecuali seribu bapak 
tidak kenal Tuhan 
kecuali harapan 
untuk bisa makan 
pada hari ini. 

Temon namanya 
bocah lanang belasan tahun 
hanya mempunyai seorang ibu 
lonte keriput pinggiran jalan 
menjajakan memeknya 
hanya demi sesuap nasi 
sebungkus rokok kretek 
dan bedak gincu murahan. 

Temon namanya
bocah lanang belasan tahun 
terlalu dini disebut preman 
meski mengais makan 
lewat memalak dan mencopet 
sementara ibunya hanya pasrah 
menyerahkan nasibnya 
kepada apa dan siapa 

Temon namanya
bocah lanang belasan tahun 
potret kemelaratan anak bangsa 
menjadi warna langit Indonesia 
di tengah para pejabatnya yang santun 
satu sisi rajin pencitraan 
sisi lain korupsi jalan terus.

Follow JOE HOO GI

Joe Hoo Gi
JOE HOO GI
Penulis · Blogger ·
Penulis reflektif multidimensi yang membahas thema isu kebangsaan, sosial, hukum, sejarah, budaya, gaya hidup hingga ilmu pengetahuan dan tekhnologi dari beragam perspektif yang lebih kritis dan terbuka terhadap kompleksitas realitas.






Artikel Terkait

Baca Lainnya