Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.



Selamat Jalan Kwa Sien Hok: Akhir Kesendirianmu Menghebohkan Banyak Orang


Entah bagaimana saya harus memulai tulisan saya ini. Tapi yang jelas tulisan ini tidak akan saya tulis jika saja kawan saya, Kwa Sien Hok alias Soebijoto Kuamerta yang nyaris selama 32 tahun saya sudah tidak lagi bergumul pertemanan dengannya, mendadak pada masa tuanya telah dikabarkan secara tragis meninggal dunia dalam kondisi duduk membusuk di ruang tamu, sementara ibu kandungnya yang sudah tua renta dan konon menderita kelumpuhan total akibat stroke juga jenasahnya ditemukan meninggal dunia tergeletak membusuk di kamar mandi.

Selamat Jalan Solikhin: Di Puncak Sakitmu, Di Akhir Senyummu


Solikhin? Konon dia kawan terbaikku. Satu mahasiswa  Fakultas Hukumtercatat  sebagai angkatan kawak-kawak di Universitas Janabadra JogjakartaMasih terlintas dipikiranku ketika kami sama-sama pernah berkecimpung di Teather  Ujanta. Dia diberi peran sebagai waria. Entah alasan apa yang terlintas di benak sang sutradara sehingga  harus memilih figur Solikhin sebagai waria?

Selamat Jalan Chatarina: Di Akhir Sembilan Belas Lebih Tiga Menit

Dua puluh tiga tahun dia bertahan sebagai teman.Mengisi setiap ruang kehidupan.Merajut lelah perjalanan.Menelan setiap perbedaan menjadi cita rasa pengertian. Suka dan duka adalah permainan yang paling mengasyikkan.Jika cinta adalah lentera keabadian maka dibutuhkan ujian pembuktian.

Mengenang Sosok Sahabatku, Gun Jack

Ketika saya masih mahasiswa angkatan 1987 di Universitas Janabadra Yogyakarta, tempat kediaman kost pertama saya tiada lain di kampung Badran. Mengapa saya memilih kampung Badran? Karena lokasinya tidak jauh dari kampus saya, cukup di tempuh dengan jalan kaki sekitar kurang lebih delapan puluh delapan ayunan langkah kaki jika saya tak salah menghitung jarak dari kediaman kost saya hingga ke tempat kampus saya.

Selamat Jalan Bung Sarlito Wirawan Sarwono

Innalillahi Wa Innaillaihi Rojiun. 
Selamat jalan Bung Sarlito
Guru Besar Fakultas Psikologi 
Universitas Indonesia, 
betapa tidak sedikit esai 
buku-bukumu acap menjadi 
bacaanku sehari-hari.

FKMY Setahun Berkibar Setahun Bubar



Maksud dari tulisan saya ini FKMY Setahun Berkibar, Setahun Bubar  hanya sekedar berbagi nostalgia perjuangan dari kesaksian saya untuk mengenang lembaran peristiwa sejarah 26 tahun yang silam betapa proses perjuangan dari para aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an, khususnya aktivis Gerakan Mahasiswa di lingkup lingkungan internal Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) banyak mengalami terjal rintangan, penuh tantangan resiko dan intrik di antara sesama kawan-kawannya sendiri yang kemudian memang harus diambil dalam sebuah pilihan. Semua tulisan ini merupakan copy paste dari catatan harian saya.

Menolak Li Peng Sebagai Wujud Solidaritas Tiananmen Berdarah



Maksud dari tulisan saya berjudul Menolak Lie Peng Sebagai Wujud Solidaritas Tiananmen Berdarah hanya sekedar berbagi nostalgia perjuangan dari kesaksian saya untuk mengenang lembaran peristiwa sejarah 26 tahun yang silam betapa proses perjuangan dari para aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an banyak mengalami terjal rintangan, penuh tantangan dan resiko yang harus diambil sebagai pilihan demi  untuk sebuah masa depan negeri yang lebih bermartabat, beradab dan demokratis sesuai amanat dari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan. Semua tulisan ini merupakan copy paste dari catatan harian saya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

Menolak Pembredelan Pers Berujung Patah Tulang Bahu Tangan Kiriku


Maksud dari tulisan saya ini, Menolak Pembredelan Pers Berujung Patahnya Tulang Bahu Tangan Kiriku hanya sekedar berbagi nostalgia perjuangan dari kesaksian saya terhadap insiden kekerasan aparat kepolisian terhadap Gerakan Mahasiswa yang memprotes pembredelan pers nasional (Tempo, Editor dan Detik) di Boulevard UGM, Yogyakarta yang terjadi pada tanggal 27 Juni 1994. 

Menguak Wajah Orde Baru Melalui Karikatur

Dua puluh dua tahun silam  
ketika kebebasan ekspresi
masih terlampau mahal di negeri ini
seorang kawan bernama: 
mencurahkan ekspresinya 
melalui tintanya.

Semoga Lekas Sembuh Alfonsa Diana



Kabut masih turun di balik luar jendela rumah sakit. Aku belum juga bisa tidur. Segelas kopi panas telah menghangatkan dinginnya pagi.

 

Ketik dan Tekan Enter