Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.



Mengkritisi Benang Kusut Dari Rohingya Sampai Uyghur




Awalnya ada dua benang yang kondisinya masih belum terburai kusut. Benang yang pertama terletak di Asia Tenggara tepatnya di Negara Republik Persatuan Myanmar yang dulu dikenal dengan Negara Burma ada propinsi Arakan alias Rakhine yang ditempati oleh etnis minoritas Rohingya keturunan Indo Arya asal Bangladesh beragama muslim. Sedangkan benang kedua terletak di Asia Timur tepatnya di Negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ada propinsi Xinjiang yang ditempati oleh etnis minoritas Uyghur keturunan Turkistan asal Turki yang beragama muslim.

Kafir Tanpa Dikafirkan Di Mesir


Di Negara Indonesia notabene bukan Negara Islam, setiap pendakwah  dapat sebebas-bebasnya  lantang berteriak kafir kepada keyakinan lain tanpa ada rasa takut seolah-olah Hukum Negara sedang dibuai mimpi panjang.

Untungnya Raja Salman Bukan Presiden Jokowi


Ketika membaca artikel berita, klik di sinimaka yang terlintas dalam benak saya tiada lain dan tiada bukan beruntunglah seruan pemecatan kepada ribuan Imam ulama yang terindikasi oleh pemahaman radikalisme ini terjadi di wilayah Negara Arab Saudi dan diumumkan oleh Raja Salman bin Abdul Aziz untuk menangakal propaganda kebencian sebagai biang dari induk terorisme. 

Selamat Maulid Isa Al-Masih bin Maryam


Ketika Maulid Isa Al-Masih bin Maryam menjelang tiba, mengapa fonomenal peradaban di negara-negara Islam di Timur Tengah yang tidak pernah mengenal Bhinneka Tunggal Ika mendadak menjadi nuansa Nusantara menjunjung tinggi kebersamaan tanpa mencari-cari perbedaan, sementara sebaliknya di peradaban Indonesian yang menjunjung semboyan Bhinneka Tunggal Ika mendadak nyaris tak mengenal kebersamaan dalam perbedaan? Wallahu'Alam Bishawab.

Memahami Palestina Dari Pemahaman Bangsa Palestina


Menurut data Fariz Mendawi, Duta besar Palestina untuk Indonesia, yang berlangsung di Auditorium Yustinus Universitas Atmadjaya, Jakarta Rabu 30 Npvember 2011, dalam seminar bertajuk Hari Internasional Solidaritas Untuk Palestina, bahwa persentase penganut Agama terbesar di Palestina adalah agama Yahudi yang menempati 50%, sisanya beragama Kristen dan Muslim yang berada di daerah Tepi Barat dan Yerusalem. 

Imajiner Bersama Aung San Suu Kyi

Joe Hoo Gi:
Dulu saya salah satu dari sekian juta pengagum Bunda ketika Bunda hadir sebagai social activist National League for Democracy (NLD). Masih selalu teringat dalam pikiran saya, betapa selama 15 tahun dalam pengasingan tahanan rumah, Bunda masih dapat memobilisasi massa dan menggelorakan semangat perjuangan pantang menyerah demi Pembebasan tegaknya Demokrasi dari kekuasaan rezim junta militer Myanmar. Support semangat Bunda kepada sistem demokrasi sikap perlawanan Bunda kepada rezim junta militer inilah yang telah banyak memberikan aspirasi perjuangan kami para aktivis Indonesia saat itu untuk dapat terbebas dari rezim militer Orde Baru. Perlu Bunda ketahui saja betapa sebagian dari buku yang Bunda tulis, salah satunya berjudul:The Voice of Hope: Conversations with Alan Clements yang terbit di tahun 2008 telah melengkapi kesempurnaan Bunda sebagai icon heroisme pembebasan terhadap rakyat tertindas oleh sistemik rezim otoriter. Tapi dengan perkembangan waktu setelah Myanmar mengalami proses transisi reformasi, terlebih setelah Bunda duduk di kabinet pemerintahan sebagai Konselor Negara, belakangan yang saya dengar, lihat dan baca dari berita kalau Bunda tidak dapat merawat kemanusiaan dan kebhinnekaan. Bunda telah melakukan pembiaran terhadap penindasan pada kaum sipil Rohingya.

Ada Apa Dengan Logika Berpikirmu Najib Tun Razak?


Ada apa dengan logika berpikirmu Najib Tun Razak ? Jika kondisi krisis kemanusiaan yang terjadi di Rohingya Myanmar lantas yang kau persalahkan justru Presiden Jokowi atas nama pemerintah Indonesia? Di mana korelasinya yang mendesak antara Indonesia dan Myanmar sehingga Anda berkesimpulan koplak seperti itu?

Mengkritisi Rohingya Secara Cerdas

Mari kita lebih cerdas, adil, netral dan proporsional dalam membahas akurasi yang berkaitan dengan insiden krisis kemanusiaan yang menimpa kaum sipil muslim Rohingya di Negara Myanmar. Memang sudah selayaknya kita support kepedulian aksi kemanusiaan kita kepada kaum sipil muslim Rohingya yang menjadi korban konflik separatis antara milisi Rohingya versus Rezim Myanmar. Tapi apakah kita sudah mencoba menggali akar persoalan krusial yang menjadi biang kerok dari insiden krisis kemanusiaan yang menimpa para korban kaum sipil muslim Rohingya?

Menolak Lupa Kepada Malingsial

Masih ingat dalam pikiran saya ketika Malingsial (istilah plesetan untuk kuosa kata Malaysia yang telah melakukan pencurian atau klaim sepihak terhadap hasil karya kesenian dan kebudayaan Bangsa Indonesia) menginjak-injak harga diri sebuah Bangsa bernama Indonesia yang dimulai pada tahun-tahun sebelum 2009. Segala hasil kesenian dan kebudayaan para anak bangsa Indonesia mendadak secara sepihak diklaim oleh Malingsial sebagai hasil karya kesenian dan kebudayaannya. Dari mulai kerajinan Batik, kesenian Reog khas Ponorogo, kesenian wayang kulit, lagu daerah Rasa Sayange dari Maluku, tari Pendet dari Bali, tari Tortor dan alat musik Gordang Sambilan dari suku Mandailing Sumatera Utara, alat musik Angklung  dan masih banyak yang lain. Bahkan masakan khas Padang seperti  Rendang dan minuman Cendol pun diklaim sebagai hasil karya anak bangsa Malingsial.

Ada Apa Dengan Logika Berpikirmu Mehmet Simsek?

Ada apa dengan logika berpikirmu Mehmet Simsek,jika anda memang peduli kepada krisis kemanusiaan yang menimpa kaum sipil Rohingya, maka beritahukan saja kepada publik kalau ada kekerasan kepada warga muslim Rohingya tanpa harus memprovokasi publik dengan video dan photo hoax yang tidak ada relevansi dan korealsinya dengan kondisi fakta yang sebenarnya.

 

Ketik dan Tekan Enter