Intermezo Corona dan Konspirasinya Di Kedai Kopi

Intermezo Corona dan Konspirasinya Di Kedai Kopi

Terjadi diskusi spontan di salah satu kedai kopi di Jogjakarta antara saya dengan seorang kawan saya. Dia menyampaikan kepada saya kalau dia tidak begitu mudah mempercayai keberadaan virus Corona. Tegasnya dia menyebut keberadan virus Corona yang diberitakan selama ini adalah bullshit. Alasannya lagi-lagi teman saya ini refrensinya mengacu kepada teori konspirasi global.

Saya malah balik bertanya kalau Anda menyebut pandemik sebagai konspirasi global, maka apakah Anda berani menyebut bahwa influenza, polio, cacar air, pes dan kolera yang pernah ratusan tahun lalu menjadi pandemik di berbagai belahan dunia hingga tercatat banyak memakan ribuan korban nyawa manusia adalah juga bagian dari konspirasi global? 

Jika Anda konsisten dengan teori konspirasi global, maka tidak hanya virus Corona saja yang bullshit, tetapi influenza, polio, cacar air, pes dan kolera pun bullshit sebab kelima penyakit tersebut pernah menjadi pandemik pada waktu awal timbulnya penyakit itu.

Dia terdiam sejenak sembari berpikir mau menyusun kalimat bantahan sebagai argumen yang saya anggap terlalu dipaksakan. Dia sampaikan kalau wabah influenza, polio, cacar air, pes dan kolera yang pernah menjadi pandemik bukanlah bagian dari konspirasi global.

Sebelum dia melanjutkan rangkaian kalimat bantahannya, saya menyeletuk spontan dengan nada bertanya, Apakah  ketidaktahuan Anda disebabkan karena pada waktu itu tekhnologi dunia belum ada kemampuan skill menyediakan sarana akses internet dan sosmed seperti sekarang?

Dia bingung lagi lantas berputar mencari refrensi cocokologi alias gotak gatik gatuk bahwa konspirasi yang dia maksud ini sebagai bisnis farmasi global yang ujung-ujungnya mencari target keuntungan besar lewat menjual vaksin.

Argumen gotak gatik gatuknya cukup saya balas betapa ketika influenza, polio, cacar air, pes dan kolera mewabah secara pandemik diberbagai belahan dunia, para pakar farmasi berlomba juga mencari vaksinnya dan alhamdulillahi rabbilalamin vaksinnya sudah ditemukan sehingga anak-anak balita sekarang pun wajib diimunisasi. Termasuk anak Anda pun pasti juga diimunisasi. 

Kalau memang target vaksin telah Anda anggap sebagai bagian dari konspirasi global lantas mengapa Anda respek banget membawa anak balita Anda ke puskesmas atau ke rumah sakit untuk mendapatkan imunisasi?  Pertanyaan saya ini timbul hanya sebagai untuk mengikuti logika Anda.

Anda ini ya aneh-aneh wae, faktanya rakyat termasuk saya dan Anda sampai hari ini dapat vaksin gratis alias tidak dipungut bayaran sepersenpun. Lantas ajang bisnis yang bagaimanakah yang Anda maksud sebagai bagian dari konspirasi global kalau memang realitasnya sampai hari ini rakyat memang tidak dipungut bayaran? 

Pertanyaan saya ini spontan ditangkisnya bahwa negara atas nama pemerintahlah yang membeli vaksin dan kemudian sengaja didistribusikan secara gratis kepada rakyatnya. Saya balik menjawab betapa kesalahan fatal dari anak-anak bangsanya sendiri yang bergelut di bidang farmasi hingga sampai hari ini tidak bisa atau belum memiliki kemampuan untuk membuat vaksin sendiri dengan standard yang diakui secara internasional.

Hak Anda untuk tidak mempercayai keberadaan virus Corona kalau kenyataan yang terjadi sampai hari ini belum atau tidak ada korban satu pun yang terpapar virus Corona, tapi faktanya di sana-sini korban-korban sudah bergelimpangan diberbagai belahan dunia tanpa terkecuali Indonesia. Bahkan update sampai hari ini rumah sakit dari berbagai kota di belahan Jawa tanpa terkecuali di Jogjakarta sudah overload alias membludak oleh pasien Covid-19.

Bayangkan saja beberapa tetangga saya, pacar teman saya, istri teman saya, suaminya teman saya dan tidak sedikit dari teman saya meninggal dunia akibat terinfeksi virus Corona, meskipun tidak sedikit dari mereka yang sudah sembuh dari infeksi virus Corona. Apakah Anda akan menutup mata atas realitas tragedi wabah pandemik Covid-19 yang telah merenggut orang-orang terdekat saya? 

Ironic indeed, di satu sisi keberadaan Agama yang fiksional dan hanya bisa dirasakan justru Anda sangat meyakininya, tetapi di sisi lain virus Corona yang dengan terang benderang telah banyak merenggut korban yang tidak sedikit di sana-sini justru Anda menyebut sebagai permainan konspirasi global.

Diskusi yang hanya sekedar intermezo akhirnya terhenti ketika teman kencannya, seorang wanita muda cantik milenial berpakaian span mulai ikut nimbrung spontan bertanya kepada teman saya, 'Which hotel will we both be in, Sir?' 

Saya tampaknya menyerah mendengar pertanyaan singkat dari teman kencannya sebab dalam kondisi darurat seperti yang dimaksud oleh teman kencannya ini betapa yang namanya prokes menjaga jarak dipastikan secara manusawi akan sulit untuk direalisasikan. Wallahu a'lam bish-shawabi. (Joe Hoo Gi)


mBambung Official


 Sampaikan kritik Anda kepada artikel kami di atas: Intermezo Corona dan Konspirasinya Di Kedai Kopi melalui kolom komentar yang sudah kami sediakan.




Dapatkan pemberitahuan setiap ada artikel terbaru