Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.



Di Manakah Aroma Keistimewaanmu Sekarang, Jogjakarta?


Sudah 36 tahun saya tinggal di Jogjakarta hingga sampai dengan sekarang. Betapa tidak saya pungkiri selama hidup puluhan tahun di hayuning bawana Nagari Kasultanan Ngayogyokarta Hadiningrat alias Jogjakarta, saya senantiasa disuguhi pergaulan hidup sosial yang serba menghargai berbagai keragaman identitas yang multikultural. Tidak berlebihan jika saya sebut Jogjakarta tidak hanya sebagai miniatur Indonesia, tapi juga sebagai miniatur dunia.

Natal Di Tengah Multikultural Bangsa



Belum lama ini masih di bulan Desember 2019, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengeluarkan fatwa yang mengharamkan ummat muslim mengucapkan Selamat Hari Natal kepada ummat Nasrani telah menjadi pelengkap corat-marutnya ukhuwah insaniyah dan wathaniyah di negeri yang multikultural ini yang sebelumnya di tahun 2016 MUI Pusat juga pernah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan ummat muslim mengenakan atribut Natal.

Mengkritisi Benang Kusut Dari Rohingya Sampai Uyghur




Awalnya ada dua benang yang kondisinya masih belum terburai kusut. Benang yang pertama terletak di Asia Tenggara tepatnya di Negara Republik Persatuan Myanmar yang dulu dikenal dengan Negara Burma ada propinsi Arakan alias Rakhine yang ditempati oleh etnis minoritas Rohingya keturunan Indo Arya asal Bangladesh beragama muslim. Sedangkan benang kedua terletak di Asia Timur tepatnya di Negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ada propinsi Xinjiang yang ditempati oleh etnis minoritas Uyghur keturunan Turkistan asal Turki yang beragama muslim.

PKI Saja Mampu Mengucapkan Selamat Natal, Mengapa Kita Tidak Mampu?




Sejarah telah mencatat betapa Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) secara resmi pernah mengucapkan Selamat Hari Natal kepada umat Nasrani di Indonesia melalui pojok editorial dengan judul Damai Di Dunia yang dimuat di Harian Rakyat, 24 Desember 1964.

Asas Keadilan Dalam Penanganan Perkara UAS, Ariel-Luna dan Vina Garut


Kalau saja video mesum Vina Garut tidak bocor ke ranah publik, maka dapat dipastikan skandal lendir Vina Garut tidak akan mungkin dapat dijerat Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Sedemikian pula dengan perkara sebelumnya, seperti kasus video mesum yang melibatkan Ariel-Luna pada tahun 2010.

Tiga Kesalahan Fatal Dalam Kasus Meiliana

Apa yang salah pada kasus yang menimpa wanita warga Tanjung Balai, Sumatera Utara, bernama Meiliana sehingga dia harus menjadi pesakitan hingga divonis bersalah dengan hukuman penjara 18 bulan atau 1,5 tahun oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Medan pada hari Selasa, 21 Agustus 2018?

Radikalisme Di Ujung Sebilah Pisau



Tulisan saya ini terinspirasi dari perdebatan antar dua kawan saya yang konon sama-sama sebagai mantan aktivis 1998 telah bersilang pendapat perihal radikalisme yang konon menurut kawan yang hadir pada acara Rembuk Nasional Aktivis 1998 yang berlangsung pada tanggal 7 Juli 2018 di Kemayoran Jakarta Pusat, telah menempatkan radikalisme sebagai pemicu lahirnya serangkaian aksi kekerasan. Bahkan menurutnya, tidak berlebihan jika radikalisme dianggap sebagai embrio masif  yang akan melahirkan aksi tindak kekerasan Terorisme di tengah hubungan antar manusia.

Spekulasi Jawaban Di Seputar SP3 Kasus Chat Porno HRS


Mendadak publik dikejutkan dengan penampilan video berdurasi 8 menit 55 detik dari pernyataan  Habib Rizieq Shihab (HRS) yang diberi judul SP3 Chat Fitnah Di Hari Raya Penuh Fitrah melalui account channel TV Front di YouTube yang dipublikasikan pada tanggal 14 Juni 2018.

Khilafah? Mari Kita Menjemput Kiamat Bersama

Janganlah membangunkan macan yang tertidur lelap. Pasalnya jika membangunkan macan yang sedang tidur, maka macan yang bangun dari tidurnya akan bereaksi dengan agresif. Macan yang saya maksud di sini tiada lain adalah ormas Islam tertua dan terbesar kita bernama Nahdatul Ulama (NU). Sejarah telah menunjukkan kepada kita betapa NU adalah ormas Islam tertua dan terbesar di antara semua ormas Islam yang ada di Indonesia. Sejarah banyak menulis peranan perjuangan NU dalam membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial kepada umat Islam di Indonesia, terutama peranan dakwahnya yang lebih memperhatikan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat ukhuwah dalam perbedaan.

Freudian Bernama Rocky Gerung


Sebagai seorang akademisi, sekaligus pemerhati terhadap ilmu filsafat, Rocky Gerung menunjukkan sikap ide pemikirannya tampil berada dalam lingkaran sebagai Freudian, menawarkan konsep berpikirnya dalam kajian kritisnya ala Sigmund Freud, khususnya perihal ide-ide psikoanalisanya yang telah mengkritisi Kitab Suci sebagai kajian tembaknya.

 

Ketik dan Tekan Enter