Kembali Ke Atas
Loading...
Temukan saya di:

Selamat Jalan Kwa Sien Hok: Akhir Kesendirianmu Menghebohkan Banyak Orang




Entah bagaimana saya harus memulai tulisan saya ini. Tapi yang jelas tulisan ini tidak akan saya tulis jika saja kawan saya, Kwa Sien Hok alias Soebijoto Kuamerta yang nyaris selama 32 tahun saya sudah tidak lagi bergumul pertemanan dengannya, mendadak pada masa tuanya telah dikabarkan secara tragis meninggal dunia dalam kondisi duduk membusuk di ruang tamu, sementara ibu kandungnya yang sudah tua renta dan konon menderita kelumpuhan total akibat stroke juga jenasahnya ditemukan meninggal dunia tergeletak membusuk di kamar mandi.

Setelah saya mendengar kematiannya yang telah menghebohkan masyarakat di Kabupaten Pati, lantas saya mencari catatan dari buku harian saya. Setelah dua jam kemudian, akhirnya saya menemukan kembali beberapa lembaran yang saya tulis ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tentang pergumulan saya dengan seorang sahabat bernama Kwa Sien Hok

Saya mengenal Kwa Sien Hok ketika saya masih duduk di bangku kelas satu SD Kanisius Keluarga I di Kabupaten Pati. Tidak ada yang tahu siapa Kwa Sien Hok. Sebab nama yang digunakan sehari-hari di sekolah bukan Kwa Sien Hok, melainkan Soebijoto Kuamerta. Kawan-kawannya di sekolah cukup memanggilnya dengan sebutan Sub. Saya sendiri sejak awal memanggilnya juga dengan sebutan Sub. 

Awal ketika masih duduk di bangku SDSub dikenal kawan yang jarang bergaul. Suka menyendiri. Tapi dalam kesendiriannnya dia habiskan untuk membaca. Jika bel sekolah berbunyi pertanda istirahat, semua kawan pada bermain dalam nuansa pergaulan, tapi Sub cukup di dalam kelas. Dia habiskan kesuntukannya hanya untuk membaca. 

Sub memang dikenal sebagai murid yang cerdas. Bayangkan sejak kelas satu hingga sampai lulus SD, dia ranking satu sebagai juara kelas. Bahkan ketika duduk di bangku kelas satu sampai lulus SMP pun, dia tetap bertahan sebagai ranking satu juara kelas. Tapi entahlah ketika berlanjut ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) apakah Sub tetap bertahan sebagai juara kelas sebab ketika SMA saya dan Sub sudah berbeda sekolah. Saya memilih sekolah di SMA Swasta Bopkri III di Jogjakarta. 

Saya lah orang yang pertama kali selalu menemani Sub ketika dia asyik dalam kesendiriannya. Sub akhirnya akrab dengan saya. Hanya saya satu-satunya di antara semua banyak kawan-kawan Sub yang dapat menjadikan saya sebagai satu-satunya kawan bermainnya. Tegasnya saya yang bisa mengerti kepribadian Sub dan saya yang bisa dimengerti  oleh Sub sebagai satu-satu kawan dalam hidupnya. 

Ketika menginjak kelas dua SD, saya diajak Sub bermain di rumahnya. Sejak bermain di rumahnya, saya baru tahu kalau Sub disapa oleh keluarganya dengan sebutan Hohok. Mengapa Sub dipanggil Hohok? Ternyata Hohok diambil dari nama Tionghoa -nya Sub, Kwa Sien Hok. Ayahnya bernama Kwa Thiam Hok, sedangkan kakanda kandungnya bernama Kwa Sien Liong. Karena ayah, ibu dan kakanda kandungnya memanggil Sub dengan sebutan Hohok, maka saya pun akhirnya ketularan turut memanggil Sub dengan sebutan Hohok.

Hohok memang kepribadiannya yang suka menyendiri memang tidak sendiri. Ternyata kakak kandungnya juga sama-sama sulit bergaul dan suka menyendiri. Hal ini saya ketahui dari kakak kandung saya sendiri yang sama-sama satu sekolah dengan Kwa Sien Liong yang biasa dipanggil dengan sebutan Liong ternyata tiada beda dengan perilaku Sub alias Hohok. Masih mending Hohok yang masih punya saya sebagai satu-satunya yang bersedia diajak berteman secara karib dengannya. Tapi si Liong kakak kandungnya sama sekali tidak mempunyai kawan. 

Kepribadian Hohok dan Liong ternyata bawaan lahir dari kepribadian ayahnya Kwa Sien Hok yang seumur hidupnya juga tidak pernah bergaul. Saya mengetahui kepribadian dari ayahnya Hohok dari cerita ayah saya sendiri ketika ayah saya mengetahui bahwa saya sering bergaul dengan Hohok. 

Memang sudah menjadi sikap saya dalam bergaul untuk tidak memilah-milah dalam memilih pertemanan. Siapa saja saya mencoba untuk mendekatinya selama yang saya dekati dapat menerima saya sebagai temannya. Meski Hohok dikenal sebagai orang yang pendiam dan sulit bergaul, tapi realitasnya Hohok tidak mendiamkan saya sebagai kawannya dan tidak teramat sulit bergaul dengan saya. 

Saya lah orang pertama kali mempopulerkan nama Hohok di depan semua kawan-kawannya di SD sampai SMP. Berangsur-angsur kawan-kawan di SD dan SMP yang sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Sub akhirnya latah turut memanggil Sub dengan sebutan Hohok. Tampaknya Hohok  lebih suka dipanggil Hohok ketimbang Sub.

Meski sejak kecil saya banyak teman, tapi saya mencuri waktu memberikan kesempatan luang kepada kawan-kawan saya untuk mengajak bermain dengan Hohok. Tapi yang terjadi banyak kawan tidak suka kepadanya. Jika bukan saya yang mengajak mereka, maka kawan-kawan saya tidak bersedia jika meluangkan waktu bermain mereka dengan Hohok. Pendiamnya Hohok telah diartikan sepihak oleh banyak kawan sebagai watak yang sombong. Sehingga ujung-ujungnya hanya saya saja yang bersedia menemani Hohok.

Bermain layangan, main kelereng dan petak umpet adalah kegemaran bermain saya dan Hohok ketika kami masih duduk di bangku SD. Tapi ketika SMP, saya sering mengajaknya memancing ikan di parit sungai Njeglong, memburu burung dengan senapan angin dan bersepedaan menyusuri jalan-jalan pedesaan hingga sampai senja menjelang. bahkan tidak jarang kalau pulang dari siang sampai senja menjelang, dia harus mendapat luapan kemarahan dari ayah dan ibunya. Kalau sudah begini, saya biasanya lari pulang saja untuk menghindari luapan kemarahan ayah dan ibunya Hohok.

Masih teringat dalam benak pikiran saya ketika duduk di bangku kelas tiga SMP. Sebagai anak-anak yang beranjak remaja, saya bersama Hohok ketika mengalami haus di tengah jalan pinggiran kebun tebu, mendadak saya mengajaknya untuk mencuri sebatang pohon tebu. Lantas aksi kami ketahuan pihak mandor tebu, sehingga resikonya kami dikejar dan diteriaki maling. Beruntunglah saya mengajak Hohok lari sembunyi di balik bebatuan besar pinggir sungai, sehingga pihak mandor putus asa mengurungkan niatnya untuk mengejar kenakalan kami.

Setelah saya lulus dari SMP pada tahun 1984, saya dan kawan-kawan masih meluangkan kesempatan terakhir untuk merayakan kelulusan bersama Hohok pergi rame-rame boncengan naik motor menyusuri kota Rembang. Bermain di pantai laut Kartini hingga sampai malam menjelang sebagai ungkapan euforia merayakan kelulusan sekolah. Ketika malam menjelang, kami semua tidak memiliki uang sehingga meluangkan waktu untuk menyusuri rumah perkampungan hanya dengan tujuan mengamen. Hohok cukup backing vokal dan mengadahkan tangannya untuk menerima imbalan recehan rupiah, sementara saya yang biasa memainkan gitar, harmonika dan vokal.

Pada akhirnya waktu lah yang menentukan kami harus berpisah. Saya harus mengakhiri pergumulan pertemanan dengan Hohok sebab saya harus meninggalkan kota Pati untuk hijrah melanjutkan di SMA Swasta Bopkri III  di Jogjakarta. Hingga tiga tahun selesai dari SMA, saya tidak memiliki kesempatan untuk bertemu kembali dengan Hohok. Tapi pada tahun 1989 ketika saya masih menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Janabadra ada kesempatan tiga jam saja saya bertemu dengan Hohok. Bahkan Hohok bercerita sejak saya meninggalkan pergumulan pertemanan dengannya, maka dia sama sekali tidak memiliki teman kecuali dalam kesendirian yang berjalan sesuai ritmenya waktu demi waktu.

Tahun berganti tahun, tidak terasa masa tua telah melekat pada usiaku betapa saya sudah tidak muda lagi. Jika sekarang sudah menginjak akhir tahun 2018, maka boleh jadi nyaris sudah ada 40 tahun saya betul-betul terpisahkan oleh kabar perihal kawan saya Hohok. Lantas mengapa saya harus teringat kepada Hohok kembali? 

Enam jam sebelum tulisan saya ini saya tulis, saya mendengar kabar duka perihal kawan saya bernama Kwa Sien Hok alias Soebijoto Kuamerta yang acap dipanggil dengan sebutan Hohok telah meninggal dunia dengan akhir puncak kesendiriannya. Akhir dari puncak kesendiriannya inilah yang menghebohkan banyak orang sebab Hohok ditemukan meninggal dunia dengan jasadnya masih duduk di kursi tamu dalam kondisi sudah berair, membusuk dan baunya menyengat di hidung. Sedangkan di ruang mandi ditemukan jasad ibu kandungnya, Soedji Tanti, yang sudah tua dan konon menderita kelumpuhan total akibat stroke meninggal dalam kondisi terlentang dengan kedua kaki yang terlipat yang sudah berair dan membusuk

Hok, begitu saya biasa memanggilnya, awal ketika kutemukan dirimu sebagai sosok seorang kawan, kesendirianmu tiada orang yang mau ambil peduli untuk sejenak menemanimu. Tapi di akhir ujung hayatmu, kau tinggalkan dunia dengan kesendirianmu yang membusuk. Tapi kali ini akhir kesendirianmu banyak orang ingin menemanimu karena sosok kesendirianmu yang menghebohkan banyak orang harus segera disemayamkan agar kau tetap pada kesejatian dirimu betapa dalam kesendirian ada keabadian. 

Selamat jalan Kwa Sien Hok, selamat jalan Soebijoto Kuamerta,  selamat jalan  Sub dan selamat jalan HohokKini kau tidak perlu lagi bersembunyi dibalik kesendirianmu sebab setelah ini kau benar-benar menemukan kesejatian kesendirianmu yang abadi.

Salam,
Joe Hoo Gi




Mau komentar? Klik di sini!
loading...
loading...

 

Ketik dan Tekan Enter